Kamis, 30 November 2017

Sejarah Perdaban Islam



PERADABAN DUNIA PRA-ISLAM DAN PADA MASA NABI MUHAMMAD SAW

Makalah

Mata Kuliah                        : Sejarah Peradaban Islam
Dosen Pengampu                : Failasuf Fadli, M.Si.

Dibuat guna memenuhi tugas Mata Kuliah Sejarah Peradaban Islam (SPI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Pekalongan








Oleh Kelompok 1:

1.      Muhammad Chotibul Umam                       (2023116192)
2.      Anis Sa’adah                                                 (2317149)                   
3.      Silvia Dinatus Salimah                                  (2317150)
4.      Uswatun Khasanah                                      (2317151)
KELAS D
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
PROGRAM STUDI PGMI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PEKALONGAN

 
2017

KATA PENGANTAR

            Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah swt. atas izin-Nya makalah yang berjudul“Peradaban Dunia Pra-Islam dan Pada Masa Nabi Muhammad saw” ini dapat diselesaikan. Salawat dan salam semoga tercurah kepada baginda Nabi Muhammad saw., sahabatnya, keluarganya, dan umatnya hingga akhir zaman.
            Makalah ini dibuat guna memenuhi tugas Mata Kuliah Sejarah Peradaban Islam (SPI) di lingkungan IAIN Pekalongan. Makalah ini menjelaskan tentang kondisi peradaban dunia sebelum tumbuhnya agama Islam dan dinamika peradaban dunia Islam pada masa kenabian Muhammad saw. pada kurun waktu sekitar tahun 610 – 632 Masehi. Hal ini dimaksudkan untuk membekali mahasiswa FTIK agar memiliki pemahaman dan apresiasi terhadap kondisi peradaban Islam pada masa dahulu dan perjuangan tokoh-tokoh penting dalam sejarah Islam sekaligus membangun mental mahasiswa FTIK sebagai seorang calon guru MI/SD agar mampu meneladani nilai-nilai positif dan perjuangan dari kondisi peradaban Islam tersebut.
Penulis sudah berusaha untuk menyusun makalah ini selengkap mungkin. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Dosen Pengampu Mata Kuliah, Bapak Failasuf Fadli, yang telah memberi amanah kepada penulis untuk mengisi materi penulisan makalah ini. Penulis juga menerima saran dan kritik dari pembaca guna penyempurnaan penulisan makalah mendatang.
            Akhirnya, makalah ini diharapkan bisa bermanfaat dan membantu mahasiswa  FTIK dalam rangka memahami Mata Kuliah Sejarah Peradaban Islam di semester satu ini. Amin yaa rabbal ‘alamin. Selamat membaca!

                                                            Pekalongan, 2 September 2017
                                                                       

Penulis
DAFTAR ISI

Kata Pengantar .............................................................................................. ii
Daftar Isi ...................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................... ….4
A.       Latar Belakang Masalah ........................................................ 4
B.       Rumusan Masalah .................................................................. 5
C.       Sistematika Kerangka Makalah ............................................. 5
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................. 6
A.       Peradaban Romawi Timur ..................................................... 6
B.       Peradaban Persia .................................................................. 13........
C.       Peradaban Arab Jahiliyah .................................................... 15
D.       Periode Mekah ..................................................................... 18
E.        Periode Madinah .................................................................. 19........
F.        Peperangan dalam Islam....................................................... 22
G.       Misi Dakwah Nabi Muhammad Saw ................................... 27
H.       Masa Terakhir Nabi Muhammad Saw ................................. 30
BAB III PENUTUP..................................................................................... 33........
A.       Simpulan............................................................................... 33
B.       Saran-saran/Rekomendasi..................................................... 33
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 34........









BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Sejarah merupakan kondisi ataupun segala peristiwa yang telah terjadi di masa lampau. Peradaban sendiri merupakan keseluruhan kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan juga teknik. Berkaitan dengan istilah Sejarah Peradaban Islam, dapat diartikan sebagai sejarah atau segala sesuatu di masa lampau yang berkaitan dengan kehidupan di berbagai bidang yang terjadi pada agama Islam masyarakat Islam pada masa itu. Menurut Effat al-Sarqawi dalam bukunya Filsafat Kebudayaan Islam (1986:6) menyebut peradaban dengan istilah al-madaniyah. Madaniyah berasal dari kata madana yang dari kata ini kita kenal istilah madinah yang berarti kota.[1]
Agama Islam sebagai salah satu agama yang memiliki pengikut terbanyak di dunia tentu memiliki dinamika historis yang menarik untuk ditelisik. Kondisi historikal yang memuat nilai-nilai perjuangan dan hal-hal positif  lainnya yang dilakukan oleh para pejuang Islam dan Rasulullah saw. dianggap sebagai suatu hal yang diharapkan dapat membangkitkan gairah Umat Islam dalam memahami sejarah Islam khususnya dilihat dari segi historisnya.
Dari banyak pengalaman, banyak dari kalangan Umat Islam sendiri yang masih belum memahami kondisi peradaban dari agama rahmatan lil’alamin ini. Tentu hal ini menjadi suatu hal yang ironis mengingat kondisi Umat Islam sekarang sudah jauh tertinggal dengan Umat Non-Islam baik itu dari segi Ilmu Pengetahuan dan Teknologinya, perekonomiannya, dan kesejahteraan umatnya.
Oleh karena itu, Penulis mengambil judul makalah seperti yang telah tertulis di atas mengingat arti pentingnya nilai historis Islam baik itu kondisi peradaban dunia sebelum Islam maupun pada masa kenabian Muhammad saw.
Makalah ini menyajikan materi yang dimulai dari Peradaban Romawi Timur, Persia, Arab Jahiliyah, Periode Mekah dan Madinah, Peperangan dalam Islam, Misi dakwah Nabi Muhammad saw. dan Masa terakhir Nabi Muhammad saw.

B.     Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalahnya adalah sebagai berikut.
1.      Bagaimana kondisi Peradaban Romawi Timur?
2.      Bagaimana kondisi Peradaban Persia?
3.      Bagaimana kondisi Peradaban Arab Jahiliyah?
4.      Bagaimana kondisi Periode Mekah?
5.      Bagaimana kondisi Periode Madinah?
6.      Apa saja peperangan dalam Islam yang pernah terjadi di masa lampau?
7.      Apa misi dakwah Nabi Muhammad saw.?
8.      Bagaimana masa-masa terakhir Nabi Muhammad saw.?

D.  Sistematika Kerangka Makalah
            Makalah ini ditulis dalam 3 bagian, meliputi:
Bab I, bagian pendahuluan yang terdiri dari: latar belakang masalah, perumusan masalah, dan sistematika kerangka makalah;
Bab II, bagian pembahasan;
Bab III, bagian penutup yang terdiri dari simpulan dan saran-saran/rekomendasi.







BAB II
PEMBAHASAN

A.    Peradaban Romawi Timur
Mythologi Bangsa Roma percaya bahwa kota Roma didirikan oleh dua bersaudara yaitu Romus dan Remulus pada tahun 750 SM, diatas tujuh buah bukit. Romus dan Remulus adalah anak dari Rhea Silva salah seorang keturunan Athena, pahlawan Troya yang berhasil melarikan diri sewaktu kota Troya dikalahkan dan dibakar oleh pasukan Yunani. Ini adalah cerita yang bersifat Magico Istoria yaitu cerita mythos yang bertujuan untu mengangkat derajat bangsa Roma sebagai bangsa yang besar di kemudian hari.[2]
Dalam perkembangan selanjutnya, akhirnya Roma tampil menjadi pusat peradaban dan politik di Italia. Bangsa-bangsa yang tinggal di sekitarnya satu demi satu ditundukkannya baik dengan jalan kekerasan maupun damai. Oleh karena itu para ahli berkesimpulan bahwa kemunduran kekaisaran Romawi ketika dipindahkannya ibu kota Roma ke Konstantinopel Agung akhirntya kekaisaran Romawi di bagi menjadi dua. Romawi barat dengan ibu kotanyaa Roma dan Romawi Timur dengan ibu kotanya Konstantinopel.
Kawasan Romawi adalah daerah yang terletak di laut Mediterania, di bagian sebelah barat merupakan daerah pantai yang berkontur landai dengan sungai Tiber sebagai muara. Sehingga daerah ini kemudian berkembang menjadi sebuah daerah pelabuhan dan pelayaran. Bagian Timur memiliki jenis tanah pegunungan dengan kontur pantai yang curam. Sedangkan kawasan utara merupakan daerah pegunungan Alpen.
Kondisi alam yang membuat kecenderungan untuk bertahan hidup lebih diutamakan., dibidang seni tidak terlalu menjadi perhatian utama masyarakat Romawi Kuno. Leluhur bangsa Romawi adalah bangsa Latinum, disamping terdapat percampuran dengan bangsa Etruski2a dan bangsa Yunani. Hal ini mempengaruhi dan member sumbangan besar kepada kebudayaan Romawi.
Walaupun begitu cirri khas kepribadian orang Romawi yang bersifat strategis, menonjolkan kekuatan, fungsionl, dan realistis tidak hilang. Bahkan, telah membuat campuran kebudayaan serapan mereka menjadi suatu kebudayaan baru dan menjadi asal usul peradaban Eropa di masa depan.
Asal usul berdirinya kerajaan Romawi dapat ditelusuri melalui cerita mitologi, diceritakan bahwa pendiri awal adalah dua bersaudara yaitu Remus dan Remulus. Salah satu sumber yang digunakan adalah legenda karya vergelius yang berjudul “Aeneis”. Kitab tersebut mengisahkan seorang pelarian dari Troya yang dikalahkan oleh Yunani dalam perang Troya bernama Aeneses ke negeri Latin di Italia.
Kemudian, puteranya yang bernama Ascanius pindah ke pedalaman dan mendirikan kota Alba Longa. Beberapa lama kemudian keturunan Aeneas yang bernama Rhea Silva diusir pamannya yang bernama Amulius karena telah melaihirkan bayi kembar bernama Remus dan Romulus.
Kedua bayi tersebut diperintahkan untuk dibuang di Sungai Tiber oleh Amulius. Kedua bayi tersebut dirawat oleh serigala sampai ditemukan oleh seorang pengembala dan diasuhnya. setelah dewasa mereka mendirikan kota Roma. Namun Romulus membeunuh Remus dalam suatu pertengkaran sehingga Romulus menjadi penguasa tunggal di kota tersebut yang dinamai Roma (Hadas, 1975:7). Ini merupakan suatu cerita yang bersifat Magico Historia, yaitu cerita mitos yang bertujuan untuk menaikan derajat bangsa Roma sebagai bangsa yang besar.
Melalui bukti-bukti sejarah mengatakan bahwa dibagian utara daerah Latinum ada sebuah tempat yang strategis untuk mendirikan sebuah kota. Beberapa suku kemudian mendirikan perkampungan dengan corak agraris, yang enjdai tenatngga mereka adalah bangsa Etruksia dan bangsa Yunani. sehingga perkampungan mendapatkan pengaruh dari tetangganya dalam pengembangan kebudayaan dan sisitem pemeritahan (Simanjutak, 1952:149).
Dalam perkembangan selanjutnya, Romawi menjadi pusat peradaban dan politik. Bangsa-bangsa yang disekitarnya satu demi satu ditundukan baik dengan cara kekerasan maupun dengan jalan damai. Romawi mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Kaisar Oktavianus Agustus (31 SM – 13 SM).
Awal berdirinya Romawi berbentuk kerajaan (Monarki) dengan raja pertamanya Romulus. Raja-raja Romawi berasal dari keturunan pendatang. Meskipun secara perekonomian mengalami kemajuan namun bangsa latin tidak senang terhadap penguasa asing yang memberlakukan undang-undang militer kepada mereka. Terjadilah pemberontakan penduduk Roma berhasil menggulingkan raja Lucius Junius Brutus pada tahun 500 SM. Sehingga, berakhirlah masa kekaisaran dan mulai memasuki sistem pemerintahan republik.
Masa Republik, penduduk terbagi atas dua golongan yaitu Patrisia dan Plebea. Patrisia asal kata bahasa latin patres yang berarti ayah, sedangkan Lebea berasal dari kata Plebs yang berarti orang banyak. Golongan Patrisia berasal dari kalangan pemilik tanah yang luas atau orang yang secara turun temurun sudah merupakan kelas aristrokrat (bangsawan). Golongan ini dianggap sebagai warga negra secara penuh. Orang-orang dari golongan ini memegang kedudukan dalam lembaga-lembaga politik, seperti konsul, senat, dan majelis.
Pemerintah Republik Romawi merupakan suatu oligarkhi karena menduduki posisi penting dalam pemerintahan adalah sekelompok kecil orang-orang dari golongan Patrici. Dalam perkembangan selanjutnya, untuk memberikan kesempatan yang sama bagi golongan Plebea duduk dalam lembaga pemerintahan, maka dibuatlah undang-undang Pertama Roma yang dikenal dengan “dua belas tabel”.
Susunan masyarakat setelah bersatunya golongan bangsawan dan masyarakat biasa adalah sebagai berikut:
1. Optimat : Terdiri dari bangsa dan rakyat biasa yang kaya
2. Equites : Para pedagang dan penguasa
3. Populus : Rakyat biasa yang memiliki suara di dewan rakyat
4. Budak : Tawanan perang yang tidak mempunyai hak politik
5. Poletar : Warga negara Romawi yang hanya memiliki dirinya sendiri
Pembagian sistem militer dimiliki oleh Romawi yaitu Legium, melalui militer yang kuat mampu membuat ekspansi di seluruh kawasan sungai Tiber dan sekitarnya. Proses perluasan ekspansi wilayah Romawi membuat terlibat dalam perang Phunichia yang berlangsung sampai tiga kali. Perubahan sistem pemerintahan di Romawi menjadi sistem kekaisaran dan menjadi sebuah imperium besar sehingga memunculkan istilah Pax Romawi, berarti perdamaian dibawah pemerintahan Romawi sehingga seluruh wilayah menjadi bagian dari imperium yang kuat.
Pada saat tersebut, imperium Romawi mengalami masa kejayaannya yang diperintah oleh kaisar Oktavianus Agustus. Proses menjadi penguasa di Romawi di mulai setelah berhasil mengalahkan Antonius. Senat kemudian mengangkatnya menjadi kaisar yang pertama dan mendapatkan beberapa gelar, Augustus yang artinya maha mulia , imperator yang artinya panglima tertinggi. Pontifeks Mazimus yang artinya kepala agama, dan Princep Civitas yang artinya warga kota yang utama (Simon, 1975:20).
Setelah Oktavianus wafat, peristiwa bersejarah yang terjadi pada masa pemerintahannya adalah lahirnya gerakan agama baru di wilayah kependudukan kekaisaran Romawi di Palestina, yaitu agama Kristen. Agama baru ini disampaikan oleh yesus kristus, maka para pengikut agama ini disebut dengan imperium yang sangat luas melalui sistem federal daripada menjalankan sistem desentralisasi.
Tiap-tiap negara bagian mendapatkan kewenangan untuk menyelenggarakan pemerintahan sendiri, dengan menjalankan kewajiban membayar pajak, membantu penyiapan perlengkapan perang saudara dan menjadi salah satu penyebab kemundurannya.
Faktor-faktor penyebab kehancuran dari kekaisaran Romawi Barat adalah:
1. Tidak ada pemimpin yang mampu memimpin seluruh wilayah Romawi yang sangat luas.
2. Melemahnya pertahanan Romawi, pada mulanya masalah pertahanan menjadi kewajiban warganya. Tetapi setelah mereka menikmati kekayaan yang diperoleh dri daerah jajahannya. Sehingga untuk pertahanan mereka menyerahkannya kepad tentara bayaran yang tidak memiliki semangat warga negara Romawi sendiri.
3. Pecahnya kekaisaran Romawi menjadi dua memberikan peluang bagi bangsa lain untuk menyerang dan memasuki wilayah Romawi.
Beberapa kekaisaran yang memerintah pada saat menjelang kejatuhannya diantaranya :
 Diocletianus, merupakan kaisar yang kejam dengan memerintahkan pembunuhan terhadap pengikut agama Kristen. Bagi yang berhasil menyelamatkan membuat lubang perlindungan digua-gua karang yang disebut Catacombe.
 Konstantin agung, dengan memidnahkan ibukota Romawi dari Roma ke Bizantium (konstatinopel) yang kini disebut dengan Istambul. Pda tahun 103 M mengeluarkan edic Milan yang berisikan perintah mengentikan pengajaran terhadap umat Kristen.
 Thedosius, menetapkan agama Kristen sebagai agama negara dan membagi wilayah kekaisaran untuk kedua putranyaa. Kekaisaran Romawi Barat dengan ibukota Roma diberikan kepada Honorius, dan Archadius berkuasa di Romawi Timur dengan ibukotanya konstatinopel.
Kota Roma mengalami kemunduran yang mengakibatkan Romawi Barat terpecah menjadi beberapa kerajaan yang diperintah oleh raja-raja Germnia Goth Timur dan Goth Barat. Dan Romawi Timur muncul menjadi tempat yang memiliki nilai strategis dan sangat tinggi, secara politik dan ekonomi.Wilayah Romawi Timur meliputi semenanjung Balkan, Asia kecil (Sampai Armenia), Syiria, dan Mesir. Setelah tahun 476 M hubungan Romawi Barat dan Romawi Timur terputus. Romawi Timur dapat bertahan sampai tahun 1453 H, namun wilayah ini kemudian dikuasi oleh Turki.
TUMBUH DAN PERKEMBANGNYA ROMAWI TIMUR
Berakhir masa kekaisarahn Romawi Barat (476 M), maka dimulailah masa kekaisaran Romawi Timur dengan ibukotanya Konstatinopel. Konstatinopel didirikan oleh orang Yunani yang bernama Byzas seorang pembuka kolonji Yunani berlayar kearah timur laut Aegera. Ia melewati selat Dardanela dan menyebrangi laut Mermara. Kemudian, ia mencapai selat Bossporus, di sini didirikan kota yang bernama menurut namanya yaitu Byzantium (Sherrat, 1979:31).Byzantium bukan kota yang didirikan oleh kaisar konstatin agung, tetapi pada mulanya hanyalah merupakan koloni bangsa Yunani, sampai kemudian dijadikan oleh kaisar Romawi menjadi ibu kota Romawi Timur.
Tahun 330 M berkembng menjadi Roma baru yang dikenal sebagai Konstatinopel. Kota Konstatinopel terletak didaerah yang strategis, baik dari segi militer dan ekonomi. Dari segii militer, konstatinopel lebih mudah dipertahankan dari serangan musuh karena muemiliki daerah pedalaman yang begunung-gunung dan didepannya membentang selat Dardanela.
Untuk memperkuat pertahanan kota-kota didaerah pedalaman dibangun tembok tebal dan tinggi yang dikelilingi oleh parit. Dari segi ekonomi konstatinopel dapat mengawasi dn menguasai jalan perdagangan ke laut hitam yang menjadi sumber gandum Eropa, disamping itu pelaqbuhan yang terdapat disekitar laut hitam dan selat borporus selalu dilaui oleh kapal dagang.Daerah Anatolia dan Mesir mengalir bahyan makanan yang dpat dipergunakan untuk keperluan penduduki kota.
Rute niaga Byzantium menghubungkan antara Timur dan Barat d[at menguasai jalur perdagangan dari Eropa ke Asia dan sebaliknya, dari Asia ke Eropa. Hal ini faktor pendukung kekaisaran Romawi Timur mampu bertahan lebih lama selain adanya pemberian upeti dari wilayah Asia kecil,Syaria, dan Mesir yang sangat kaya (Sherrrad, 1973:33). Letak Bizantium yang sangat strategis membawa keuntungan dibidang ekonomi, karena berfungsi pelabuhannya menjadi Bandar transito bagi daerah-daerah laut tengah, dapat juga dikatakan menjadi Bandar pengubung antara dunia barat dan dunia timur dalam bidang perdagangan.
Salah satu kaisar yang memberikan banyak perubahan terhadap konstatinopel adalah kasiar Yustinianus memerintah di Romawi Timur. Perubahan tersebut memiliki bertujuan untuk mengembalikan kemegahan yang pernah dicapai oleh Romawi sebelum mengalami perpecahan, dan merebut kembali wilayah yang pernah menjadi bagian dari Romawi.
Sumbangan yang diberikan kasiar di bidang hukum dan arsitektur diantaranya, Codex Yustianus merupakan kumpulan perintah yang pernah dikeluarkan kaisar yang kemudian menjadi sumber hokum di Romawi Timur. Sedangkan dibidang arsitektur, peninggalannya adalah gedung gereja ayasopia, yang merupakan contoh dari budaya Yunani dan Romawi Kuno. Sehingga, Bizantium menjadi pemelihara keagungan Yunani dan Romawi. Pengaruh seni Bizantium menyebar ke seluruh kawan Eropa.
Peristiwa yang paling penting dalam masa pemerintahan Kaisar Yustianus adalah terjadinya perpecahan dalam ajaran agama kristen katolik. Pada tahun 1054 M yang melahirkan aliran katolik Ortodoks dan katolik Romawi. Perbedaan tersebut berasal dari pandangan berbeda tentang kedudukan Yesus Kristus, Katolik Romawi mengaku bahwa Yesus merupakan Tuhan, Anak Tuhan dan Rasul. Sedangkan Katolik Ortodoks mengakui bahwa Yesus merupakan Rasul bukan Tuhan ataupun Anak Tuhan. (Osman, 1979:12)
Setelah Kaisar Yustianus wafat maka diangkatlah Heraklius (610-641). Pada masa pemerintahannya, Byzantium mengalami serangan diantaranya dari Bangsa Slavia yang berhasil mengambil sebagian dari daerah balkan dan daerah perbatasan Konstantinopel.   Persia berhasil menduduki Antiochha, Damaskus, Baitul Mukadas, dan pada tahun 614 M berhasil mendapatkan Mesir. Melalui perjuangan yang berat akhirnya kawasan tersebut berhasil kembali dikuasai sehingga kelangsungan hidup Romawi Timur dapat bertahan lama. Namun, dengan munculnya Agama Islam maka Byzantium harus kembali menghadapi serangan dari bangsa yang baru.

B.     Peradaban Persia

Telah berselang kira-kira seperempat abad dari lahirnya agama Islam, tatkala pertempuran-pertempuran itu terjadi. Bangsa Persia dan Bangsa Romawi mendengar kedatangan agama Islam dan mendengar pula kemenangan-kemenangan yang dicapai oleh kaum Muslimin. Mereka dengar keterangan tentang dasar-dasar Islam yang bersifat toleransi itu. Bagi mereka adalah pendengaran pertama kali adanya suatu agama yang memberikan hak sama antara raja dan rakyat.[3]
Untuk pertama kali mereka mendengar p[ejabat-pejabat pemerintahan yang miskin, yang menambal kain bajunya dan menempeli terompahnya dengan tangannya sendiri. Mereka mendengar dan mengetahui keadaan yang demikian. Mereka rasakan sendiri betapa jauh perbedaan lapangan kehidupan yang mereka rasakan dengan langgam kehidupan yang dirasakan kaum Muslimin.[4]
Pembesar-pembesar Persia sendiri telah menginsafi pula bahwa laskar Persia berperang tidaklah dengan keyakinan, bahwa mereka tidak ingin sehingga terpaksalah Hormaz panglima Persia itu, dalam salah satu pertempuran dengan kaum Muslimin, mengikat bala tentaranya dengan rantai, supaya mereka tiada dapat melarikan diri dari medan pertempuran.
Bangsa Romawipun pernah berbuat demikian. Diriwatkan oleh Al-Baladzuri bahwa bangsa Romawi pada pertempuran di Yarmuk mengikat diri mereka dengan rantai, agar mereka tidak melarikan diri dari medan perang dan tersiarlah di Persia suatu keyakinan yang dikenal dengan nama: “Hak Ketuhanan Yang Suci”. Menurut keyakinan ini raja-raja adalah bayangan Tuhan di atas bumi. Dengan demikian, amat luaslah jurang yang memisahkan antara raja dengan rakyatnya.[5]
Ketika itu, Bangsa Persia dan Bangsa Romawi saling berperang-perangan. Peperangan antara kedua negara itu boleh dikatakan terus-menerus. Dalam peperangan itu kadang-kadang bangsa Persia yang menang dan kadang-kadang bangsa Romawi. Akan tetapi, peperangan selamanya mengakibatkan kelemahan, biarpun kepada pihak yang kalah atau yang menang.
Imperium Romawi adalah salah satu imperium yang amat luas, yang membujur mulai dari semenanjung Iberia sampai ke Syam, Mesir dan Afrika Utara. Imperium ini melingkupi beberapa negara dan berjenis-jenis bangsa manusia. Sedang kaisar-kaisarnya terkenal dalam sejarah sebagai kaisar-kaisar yang kejam dan berdarah penjajah.[6] Kerap kali negara-negara yang telah mereka taklukkan memberontak, maka mereka ajarlah pemberontak-pemberontak itu dengan bengis dan kejam.  Darah mereka ditumpahkan dan harta mereka dirampas.
Adapun Persia, hanyalah terdiri dari satu negara. Akan tetapi, penindasan keagamaan sedang menjadi-jadi. Pemerintah keluarga Sasan yg telah memerintah kira-kira empat abad lamanya telah mengalami kelemahan. Akhirnya, pemerintah dipegang oleh Yazdigird III. Raja inilah raja yang terakhir dari keluarga Sasan.

C.    Peradaban Arab Jahiliyah
      Masa sebelum lahirnya Islam disebut Zaman Jahiliyah, masa kegelapan dan kebodohan dalam hal agama. Kata Jahiliyah berasal dari Jahl, yang dimaksud adalah Jahl dalam Hilm bukan dari Ilm yang artinya kemunduran moral atau (kebodohan dalam hal agama), bukan dalam hal lain, seperti ekonomi perdagangan dan sastra.[7] Jadi yang dimaksud dengan Jahl di sini adalah tidak mengetahui hakikat Tuhan sehingga mendorong mereka menyuruh Musa membuat Tuhan berupa patung yang bias disentuh dan dilihat untuk mereka sembah.[8]
      Sebelum Islam lahir, ada diantara bangsa Arab yang berpikir untuk melepaskan diri dari berhala dan kufarat. Mereka menganut agam Tauhid yaitu agama Nabi Ibrahim AS. Agama ini disebut Hanif. Mereka mempercayai Allah sebagai pencipta alam. Keyakinan itu dicampur adukkan dengan tahayul dan dan kemusyrikan, seperti menyekutukan Allah dengan bulan, matahari, berhala, dan lainnya.[9]
Kepercayaan yang menyimpang dari agama Hanif disebut Watsaniyah. Agama ini mensyariatkan Allah dengan menyembah : Anshab, Autsan dan Ashnam. Anshab merupakan batu yang belum memiliki bentuk, Autsan merupakan patung yang terbuat dari batu dan ashnam merupakan patung yang terbuat dari kayu, emas, perak, logam dan patung yang tidak terbuat dari batu. Mereka menyembah berhala yang merupakan kiblat dan penentu peribadatan.[10]
      Mereka mengaku menurut agama Nabi Ibrahim tetapi tidak tercermin dalam perbuatan mereka. Hampir rata-rata mereka menyembah berhala. Ka’bah yang merupakan sentral keagamaan terdapat 360 berhala yang mengelilingi Hubal (berhala terbesar) dan dianggap sebagai dewa. Asal mula penyembah berhala karena mereka mensucikan dan menyembah batu-batu yang disekitar Ka’bah kemudian mereka membawanya kemana-mana.
Disamping itu, ada beberapa berhala yang berasal dari luar kota Mekkah, anatara lain Manah (Manata) dari Yatsrib, al-Latta dari Thaif, dan al-Uzza dari Hijaz yang merupakan berhala tertua. Selain menyembah berhala, agama dan kepercayaan lain juga dipegang oleh bangsa Arab. Ada beberapa kabilah yang menganut agama Yahudi dan Masehi. Penduduk Yaman, Najran dan Syam memeluk agama Masehi. Penduduk Hirah dan Ghassan memeluk agama Nasrani.
Ada pula yang memeluk agama Majusi (Mazdaisme), agama orag Arab yang lebih berdekatan dengan Persia, juga oleh orang Arab Iraq dan Bahrain serta wilayah pesisir teluk Arab dan Yaman. Sedangkana agama Shabi’ah berkembang di Iraq dan lainnya yang dianggap sebagai agama kaum Ibrahim Chaldeans. Banyak penduduk Syam dan Yaman yang memeluknya. Setelah kedatanga agama Yahudi dan Nasrani, agama Shabi’ah mulai surut.
Orang-orang Arab juga mengundi nasib dengan menggunakan al-azlam atau anak panah yang tidak ada bulunya. Hal ini berkaitan dengan kehendak mereka dalam mengambil keputusan seperti menikah, bepergian, dan lain-lainya. Mereka juga melakukan perjudian dan undian. Mereka juga percaya kepada perkataan peramal (orang yang bisa mengabarkan sesuatu yang akan datang), orang pintar dan ahli nujum. Semua gambaran tersebut adalah perbuatan syirik.
Kondisi sosial masyarakat Arab Jahillyah adalah poligami tanpa ada batas maksimal tanpa pandang bulu siapa yang dinikahinya. Begitu juga dengan perzinaan. Secara garis besar, kondisi sosial masyarakat Arab dahulu bisa dikatakan merosot dan lemah (Jahiliyah), kebodohan dan kegelapan mewarnai segala aspek kehidupan, kurafat tidak bisa lepas, manusia hidup layaknya binatang, wanita diperlakukan seperti benda mati dan perjualbelikan.
Orang Arab sering berpindah tempat dalam mencari rizki karena keadaan tanah yang kurang subur di daerah semenanjung Arab. Orang-orang Arab suka memelihara unta untuk dikendarai, dan menggembalakan ternak berupa domba, kambing, kuda dan lain-lain untuk penghidupan mereka. Sebagian diantara mereka ada yang berdagang. Dalam hal ekonomi perdagangan, bangsa Arab mengalami kemajuan yang sangat pesat.
Perdagangan di Mekkah menjadi semakin maju karena menjalin hubungan dengan bangsa lain seperti Syiria, Persia, Habsyi, Mesir dan Romawi. orang Arab juga mengenal perindustrian dan kerajinan seperti jahit-menjahit, menyamak kulit, dan lainnya yang berasal dari rakyat Yaman, Hirah dan Syam. Wanita-wanita Arab lah yang menangani pemintalannya. Sedangkan pertanian di Arab hanya didaerah tertentu yang subur dan menghasilkan.
Sistem pemerintahan bangsa Arab sebelum Islam, dimulai oleh golongan Arab Baidah. Periode ini disebut juga periode pertama sejarah pemerintahan bangsa Arab. Mereka mendirikan kerjaan di daerah al-Ahkaf al-Ramel yang terletak di yaman dan Oman, yang kemudian tersebar di Irak, Syiria, India dan Juhfah (antara Mekkah dan Yatsrib), selain itu Arab Baidah juga mendirikan kerajaan Tsamud dan kerajaan al-ambath (Amaliqah).[11]
Periode kedua adalah Arab Aribah atau Muta’arribah. Kerajaan-kerajaan yang pernah berdiri pada periode kedua di Yaman, antaralain Ma’iniyah, kerajaan Saba’, dan kerajaan Himyar. Periode ketiga adalah periode Arab Musta’ribah. Pusat kekuasaannya adalah Makkah dan Yatsrib. Ada dua kerajaan besar yang berdiri yaitu kerajaan Gassasinah dan kerajaan Hirah. Selain itu juga terdapat kerajaan-kerajaan lain.[12]

D.    Periode Mekah
Dalam sejarah Peradaban Islam, sejarah hidup Nabi Muhammad saw. biasanya dibedakan menjadi dua, yaitu ketika Nabi Muhammad menjalani hidupnya di Mekah dan Madinah. Sejarah masa hidup Nabi ini selain dikaji dalam bidang sejarah, kerap kali pula mendapatkan perhatia di bidang disiplin lain seperti studi Alquran. Situasi dan kondisi yang dihadapi Nabi Muhammad menjadikan perbedaan tema-tema sentral dalam ajaran Islam melalui wahyu yang diterima Rasulullah.[13]
Sebelum Islam datang di tanah Arab, sebenarnya masyarakat Arab bukan tidak berkeyaknan, mereka sudah memiliki keyakinan tertentu yang dikenal dengan Paganisme, mereka tidak mengingkari adanya Tuhan, tetapi umumnya mereka menggunakan perantara yaitu patung-patung atau berhala untuk menyembah Tuhan mereka.[14] Orang Arab dalam hidupnya suka berpindah-pindah tempat atau nomaden, mereka suka mengembara kemana-mana.
Itu semua disebabkan oleh kondisi alam bangsa Arab yang kebanyakan tandus dan kurang subur. Dengan kondisi alam seperti ini, mereka memiliki watak keras. Mereka suka berperang dengan kaum laki-laki dominan dalam posisi ini, sehingga ketika mereka memiliki anak laki-laki mereka banggan, dan sebaliknya ketika memiliki anak perempuan mereka malu dan menganggap itu sebagai aib, karena mereka berpikir bahwa anak perempuan tidak bisa diajak perang, maka banyak yang mereka bunuh.
Dalam kondisi masyarakat semacam itulah Nabi Muhammad diutus. Muhammad terbilang sebagai anak yatim karena ayahnya meninggal ketika dia masih dalam kandungan. Dan pada masa usia Muhammad mencapai enam tahun, dia menjadi yatim piatu ketika dia diajak ibunya ke Madinah dalam rangka berziarah ke makam ayahnya. Dalam perjalanan pulang dari Madinah, Aminah jatuh sakit yang menyebabkannya meninggal dunia.
Sebagian penulis berpendapat bahwa sebenarnya orang-orang Quraisy tidak sepenuhnya percaya terhadap berhala dan tidak benar-benar mempertahankan Tuhan-tuhan mereka.mereka hanya menjadikan berhala-berhala itu sebagai alat bukan tujuan untuk mengelabuhi orang-orang Arab agar mudah ditipu dan diperas. Karena faktor itulah sehingga masyarakat Quraisy sulit menerima dakwah Rasulullah saw.

E.     Periode Madinah
Rosulullah bersama para sahabat melakukan hijrah ke Madinah. Sebenarnya ada beberapa sebab utama yang membuat Nabi Hijrah ke Madinah, yaitu : pertama, perbedaan iklim di kedua kota itu mempercepat dilakukannya hijrah. Iklim Madinah yang lembut dan watak rakyatnya yang tenang sangat mendorong penyebaran dan pengembangan agama Islam. Sebaliknya, kota Mekkah tidak mempunyai dua kemudahan itu. Sehingga hijrah ke Madinah.
Kedua, nabi-nabi umumnya tidak dihormati di negara-negaranya sehingga Nabi Muhammad pun tidak diterima oleh kaumnya sendiri. Akan tetapi disukai sebagai Nabi Allah, oleh karena orang-orang Madinah dan dia sungguh diundangnya. Ketiga, tantangan Nabi hadapi tidaklah sekeras di Mekkah. Golongan Pendeta dan kaum ningrat Quraisy yang menganggap Islam bertetangan dengan kepentingan mereka. Ini sungguh berbeda dengan sikap penduduk Madinah terhadap Nabi.[15]
Dalam perjalanan hijrah itu, Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah pada tanggal 27 September 822 M bertepatan dengan Hari senin Tanggal 12 Rabiul Awal, yang kemudian oleh Khilafah Umar bin Khattab ditetapkan sebagai tahun pertama Hijriah. Sebelum sampai di Madinah, Nabi singgah di Qubah dan mendirikan Masjid yang pertama dalam sejarah Islam, di daerah itu. Kemudian melakukan sholat jum’at pertama yang berisikan tahmid, sholawat dan salam, pesan bertaqwa dan do’a kesejahteraan bagi kaum Muslimin.[16]
Apa yang dilakukan Rosulullah dengan sholat Jum’at tersebut sesungguhnya merupakan simbol persatuan umat Islam ditengan-tengah kuatnya kesukuan penduduk Madinah, dan masjid dari segi agama berfungsi sebagai tempat ibadah, sedangkan dari segi sosial berfungsi sebagai tempat untuk mempercepat ikatan sesama muslim, menyatukan umat Islam dan menyambung tali silaturrahim antar umat Islam untuk mempersaudarakan semua kaum muslim di Madinah.
Selanjutnya dalam sejarah Islam, penduduk Madinah yang menyambut kedatangan Rosulullah bersama sahabat ini mendapat julukan kaum Anshar, karena prestasi dan jasanya yang besar terhadap Islam. Dan orang-orang Islam di Mekkah yang  ikut hijrah ke Madinah dengan predikat Muhajirin, karena kesetiaan dan pengorbanananya yang besar terhadap Islam. Predikat ini merupakan langkah strategis dalam antisipasi terhadap propaganda orang-orang Yahudi yang tidak senang dengan persatuan antara kaum Anshar dan Muhajirin.
Setelah Rosulullah membangun Masjid sebagai sarana untuk mempersaudarakan kaum Muslimin di Kota Madinah, selanjutnya Rosulullah juga melakukan pembangunan sosial, ekonomi dan politik negara Madinah. Bai’at Abaqah yang dulu dilakukan kemudian begitu nyata yaitu dengan didukungnya Nabi Muhammad oleh sebagian besar suku Aus dan Kazraj yang memudahkannya dalam menggalang potensi mereka untuk disatukan menjadi bangsa yang berdaulat membuat perjanjian untuk saling membantu antara muslim dan non muslim.
Perjanjian tersebut didokumentasikan dalam piagam Madinah, yang menurut Ahmad Syalabi secara umum berisikan antara lain bahwa kelompok ini mempunyai pribadi keagamaan dan politik, kebebasan beragama terjamin semua, kewajiban penduduk Madinah, baik yang Muslim maupun bangsa Yahudi, bantu membantu secara moril dan materil, dan Rosulullah adalah pemimpin tertinggi penduduk Madinah. Butir-butir dalam piagam Madinah tersebut merupakan kesepakatan bersama yang mendasari berdirinya negara Madinah.
Selain itu selama Nabi sebagai kepala negra Madinah, beliau melakukan kebijakan satu sama lain memiliki kaitan antara lain pertama, intensifikasi pemantapan sosio ekonomi politik.[17] Oleh sebab itu ayat-ayatAl-Qur’an pada periode Madinah ini diturunkan terutama ditujukan untuk pembinaan hukum, dan Rosulullah menjelaskan ayat-ayat yang belum jelas dan terperinci itu dengan perbuatan-perbuatan beliau, seperti sistem syura dalam politik, persamaan derajat antar sesama, perbedaan karena taqwa dan amal sholeh, dan lain-lain.
Dalam periode Madinah inilah Rosulullah benar-benar dapat membina masyarakat yang kondusif, sehingga di bawah kepemimpinan Rosulullah, Madinah menjadi wilayah yang diperhitungkan. Kepemimpinannya sebagai panglima perang pun juga teruji dalam beberapa peperangan yang dilkukannya, baik yang tergolong ghazwah atau sariyah, sampai dengan peristiwa dengan fath Mekkah yang monumental, yaitu peperangan tanpa adanya pertumpahan darah.
Ajakan masuk Islam kepada pemimpin-pemimpin dunia melalui surat yang beliau kirimkan merupakan langkah politis yang angat berani. Kemampuannya dengan kebinekaan kabilah dan suku, serta mempersaudarakannya adalah ukt misi risalah yang dibawanya berdimensi religius dan sosial politik. Dan satu bukti sejarah bahwa nabi seorang kepala negara di Madinah adalah munculnya persoalan siapaah yang menggantikan Rosulullah sebagai pemimpin wilayah itu setelah Rosulllah wafat.

F.     Peperangan dalam Islam
Banyak peperangan yang terjadi sebagai upaya kaum muslimin dalam mempertahankan diri dari serangan musuh. Diawal pemerintahan, nabi melakukan ekspedisi ke luar untuk mempertahankan dan melindungi negara yang baru dibentuk. Untuk menghadapi kemungkinan serangan musuh, nabi membuat isasat dan membentuk pasukan perang. Umat Islam diijinkan perang karena ada dua tujuan : untuk melindungi diri dan untuk mejaga keselamatan dalam penyebaran kepercayaan dan mempertahankan diri dari penghalang.[18]
Beberapa perang yang pernah terjadi dalam rangka menentukan masa depan negara Islam antara lain:
1.      Perang Badar
Perang Badar al-Kubra terjadi pada tanggal 8 bulan Ramadhan tahun kedua Hijriyah (624 M), yaitu anatara kaum muslimin Madinah dibawah pimpinan Rosulullah melawan kaum Quraisy. Sebab-sebab terjadinya perang Badar antara lain kaum Quraisy ingin melenyapkan musuhnya padahal mereka telah merampas harta kaum muslimin di Mekkah. Bila kaum Quraisy menang, maka jalur perdagangan ke utara akan aman tanpa gangguan,  jika kalah maka perdagangan terganggu yang akan merugikan perniagaan kaum Quraisy.
Medan pertempuran terjadi di lembah Badar antara Mekkah dan Madinah, kurang lebih 144,5 km sebelah barat daya dari Madinah. Perang ini diikuti oleh kaum Quraisy dipimpin oleh Utbah bin Rabiah, Al-Walid putra Utbah dan Saibah, saudara Utbah. Sedangkan pasukan Islam dipimpin oleh Ubaidah bin Haris, Hamzah dan Ali bin Abi Thalib. Pasukan Quraisy sebanyak 900-1000 orang, sedangkan pengikut Islam hanya 305 orang. Pertempuran ini akhirnya dimenangkan oleh kaum Muslimin.
Setelah perang Badar, nabi menyerang suku Yahudi Madinah dan Qoinuqa yang berkomplot dengan orang-orang Quraisy Mekkah. Mereka akhirnya meninggalkan Madinah menuju perbatasan Syiria. Suku badui yang melihat kemenangan kaum muslimin pada perang Badar dan semakin meningkatnya kekuatan Islam, ingin sekali menjalin hubugan dengan Nabi. Kemudian Nabi menandatangani sebuah piagam perjanjian dengan suku badui.
2.      Perang Uhud
Perang Uhud terjadi pada bulan Sya’ban tahun ke-3 H di kaki Gunung Uhud yang terletak di utara Madinah. Sebab perang ini terjadi adalah kaum Quraisy ingin menebus kekalahan yang dideritanya pada wakt perang Badar. Bagi mereka, kekalahan pada perang Badar meruakan pukulan yang sangat berat.[19]
Perang ini diikuti oleh Abu Sufian membawa pasukan 3000 orang berkendaraan unta, 200 orang berkendaraan kuda di bawah pimpinan Khalid bin Walid dan 700 orang berbju besi. Pasukan Nabi berjumlah sekitar 1000 orang, tetapi sampai di perbatasan kota, 3000 orang Yahudi dengan Abdullah bin Ubay kembali ke Madinah. Pasukan Islam tinggal 700 orang. Di bukit Uhud kedua pasukan bertemu dan terjadlah prang dahsyat. Pada awalnya pasukan Islam menang karena disiplin dan strategi jitu meski jumlanya lebih kecil.
Akan tetapi, kemudian karena godaan harta peninggalan musuh pasukan Islam mulai memungut dengan tidak menghiraukan gerakan musuh meskipun sudah diperingatkan oleh Nabi agar tidak meninggalka posnya. Kelengahan kaum Muslimin ini dimanfaatkan oleh musuh. Pasukan Quraisy kemudian menyerang dan pasukan Islampun porak-poranda. Banyak kaum muslimin yang gugur sebagai syahid dalam perang Uhud sebanyak 70 orang Nabi pun juga terluka.
3.      Perang Khandaq
Perang ini terjadi pada bulan Syawal tahun ke-5 H, bertempat di sekitar Madinah. Dinamakan ahzab/sekutu karena kaum Quraisy mengajak suku-suku lain untuk bergabung dan dikatakan khandaq karena disekitar Madinah terutama bagian utara kota Khandaq, usul Salman Al-Farisi untuk mempertahankan dari serangan musuh.
Pasukan Yahudi yang membela bersama Abdullah bin Ubay termasuk Bani Nadir kecuali (Bani Quraiza) diusir keluar kota Madinah. Mereka menuju Khaibar dan bergabung dengan masyarakat Mekkah menyusun kekuatan untuk menyerang Madinah. Pasukan mereka berjumlah 2400 orang yang terdiri dari beberapa suku. Sementara pasukan Madinah ada yag berkhianat yaitu orang-orang Yahudi di bawah pimpinan Ka’ab bin Asad yang membuat umat Islam semakin terjepit.
Pasukan sekutu mengepung Madinah dengan mendirikan kemah-kemah diluar Parit.Setelah sebualan pengepungan ,angin dan badai pun turun dengan kencangnya dan merusak seluruh kemah dan perlengkaannya. Mereka akhirnya menghentikan pengepungan dan kembali ke nengeri masing-masing tanpa hasil apapun.
Pada tahun 628 M atau tahun ke-6 H,ketika itu Nabi memutuskan untuk di mulainya nasionalisasi islam,ketersambungan islam dengan agama Yahudi dan kristen ,jum’at menggantikan sabtu,azan menggatikan suara terompet dan goang ,Ramadhan ditetapkan sebagai bulan puasa ,kiblat shalat dipindah kan dari Yerussalem menuju Makkah ,ibadah haji di syari’atkan dan mencium hajar aswad sebagai ritual islam.
Nabi memimpin delegasi kaum muslimin berangkat ke Makkah untuk melaukan umrah dengan berihram tanpa senjata.Mereka sampai di Hudaibiyah, berjarak 15,3 Km dari Makkah dan berkemh disana. Penduduk Makkah tidak mengizinkan untuk memasuki kotanya. Kemudian, diadakanlah perjanjian yang dikenal dengan nama Perjanjian Hudaibiyah.[20]
Isi perjanjian Hudaibiyah :
-Kaum muslimin boleh mengunjungi ka’bah tetapi di tangguhkan sampai dengan tahun depan
-Lama kunjungan dibatasi sampai 3 hari saja
-Kaum muslimin wajib mengembalikan orang-orang Makkah yang melarikan diri ke Madinah selama 10 tahun
-Diadakan genjatan senjat-Setiap kabilah bebas untuk masuk kedalam persekutuan
4.Perang Khaibar
Perang Khaibar terjadi pada tahun ke-7H.Khaubar merupakan nama ebuah kota yang penduduknya orang-orang Yahudi dari golongan yang pernah bersekutu dengan dengan kaum Quraisy dalam perang Khandaq.Nabi Muhammad Saw membawa 1600 pasukan di bawah panglima perang Ali bin Abi Thalib menyerang mereka dan mengepung selama 6 hari.Pasukan islam berhasil mengalahkan mereka pada hari yang ke-7.
5. Perang Mu’tah
        Perang Mu’tah terjadi pada tahun ke-8 H di dekat desa Mu’tah, bagian utara Jazirah rab. Sebab perang ini berlangsung adalah tuntutan membalas perlakuan kejam dari raja Ghassan yang telah membunuh utusan yang dikirim nabi dalam rangka dakwah Islam. Sebelumnya, nabi telah mengirim surat kepada kepala-kepala negara dalam rangka mengislamkan mereka. Raja-raja yang dikirimi surat antara lain raja Ghassan, Abesinia, Persia, dan Romawi. Mereka menolak ajakan Nabi untuk memeluk Islam.
Nabi mengirim pasukan sebanyak 3000 orang di bawah pimpinan Zaid bin Haritsah. Pasukan Ghassan mendapat bantuan dari Romawi yang akhirya peperangan tidak berimbang. Jumlah mereka mencapai 20.000 orang. Kemudian perang dahsyat ini telah menggugurkan pahlawan Islam sebagai syahid yaitu Zaid bin Haritsah dan Ja’far bin Abi Thalib. Akhirnya Khalid bin Walid yang sudah masuk Islam mengambil alih komando dan menarik pasukannya kembal menuju Madinah.
5.      Perang Hunain
        Perang Hunain terjadi pada tahun ke-8 H. Hunain adalah nama lembah tempat terjadinya perang ini.  Sebab terjadinya perang Hunain adalaj masih adanya dua suku arab yang menentang Bani Tsaif di Thaif dan Bani Hawazin diantara Taif dan Mekkah, meskipun Mekkah sudah ditaklukkan. Mereka ingin menuntut bela atas diruntuhkannya berhala-berhala mereka oleh Nabi. Mereka kemudian membentuk pasukan untuk memerangi Islam. Untuk menghadapi mereka, nabi mengerahkan 12.000 orang pasukan dibawah pimpinan Nabi.
        Pada awalnya, kaum muslimin menderita kekalahan. Kaum muslimin tidak waspada terhadap tipu daya musuh  dan terpedaya oleh banyaknya jumlah pasukan mereka. Ketika bertemu kaum muslimin terperangkap di celah yang sempit dari lembah Hunain. Mereka diserang dengan panah shingga mereka tercerai berai. Akhirnya mereka kembali dan berhasil mengalahkannya. Dari pihak mush 70 orang terbunuh dan banyak dijadikan tawanan, sedangkan di pihak muslimin 4 orang gugur sebagai syahid.
7. Perang Tabuk
Perang Tabuk terjadi pada tahun 9 H. Heraklius bergabung dengan Bani Ghassan dan Bani Lachmedis menyusun pasuka besar untuk menghadapi Islam. Mereka berniat untuk menghancurkan kebudayaan dan peradaban Islam, seperti kemajuan intelektualitas Islam dan ajaran Islam itu sendiri yang dinilai toleransi bagi sebagian lapisan masyarakat.[21] Untuk menghadapi pasukan Heraklius, Nabi juga menyusun pasukan dalam jumlah besar pula. Untuk keperluan itu, Nabi meminta bantuan kepada sahabat-sahabatnya agar membantu pasukan Islam dengan perlengkapan yang dibutuhkan.
Peristiwa ini menunjukan kegotongroyongan dan pembelanjaan harta disaat masyarakat dalam keadaan sulit. Usman membantu dengan 10.000 dinar dan 300 untasrta 50 ekor kuda. Abu Bakar menyumbang 4000 dirham dan Umar bin Khattab menyumbang separuh hartanya serta banyaklagi sahabat-sahabat yang lain. Nabi mampu mengerahkan pasukan sebanyak 30.000 orang.
Tentara Romawi dibawah pimpinan Heraklus tersebut akhirnya merasa minder dan menarik diri kembali ke daerahnya masing-masing. Nabi tidak melakukan pengejaran tetapi berkemah di daerah Tabuk. Di daerah ini, Beliau mengadakan perjanjian dengan penduduk setempat sehingga daerah tersebut menjadi daerah Islam. Perang Tabuk merupkanerang terakhir yang diikuti oleh Rosulullah.[22]

G.    Misi Dakwah Nabi Muhammad Saw.
Muhammad saw. dilahirkan pada tanggal 9 atau 12 Rabi’ul Awal (20 April tahun 571 M). Sebelum Beliau dilahirkan, ayahnya telah meninggal dunia. Salah satu daru usaha Muhammad yang terpenting sebelum Beliau diutus menjadi Rasul ialah berniaga ke Syam membawa barang-barang perniagaan Khadijah binti Khuwailid, dengan ditemani oleh sahaya Khadijah yang bernama Maisarah.
Kekayaan Khadijah telah member kesempatan kepada Muhammad untuk mencurahkan waktu dan perhatiannya kepada beribadah. Semenjak Muhammad kawin dengan Khadijah, dia telah menjadi seorang yang berada. Muhammad sering kali mengasingkan diri untuk berfikir tentang keadaan alam semesta. Maka kekayaan yang telah didapatnya itu telah memberi kesempatan kepadanya untuk lebih banyak mengasingkan diri dan berfikir.
Hal tersebut menggambarkan sosok Muhammad yang tidak berlebih-lebihan dan tak berbangga diri terhadap harta yang dipunyainya. Beliau senantiasa mempergunakan harta tersebut semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah dan dalam rangka untuk semakin mendekatkan diri pada Tuhannya yang telah mengaruniakan rezeki kepadanya.
Usianya yang bertambah lanjut menyebabkan dapat berfikir lebih mendalam. Budi pekertinya yang luhur menjadikan jiwanya lebih suci. Sementara itu, Tuhan pun telah menumpahkan inayat-Nya kepada Beliau, maka menghujamlah pada jiwanya keinginan hendak mencurahkan perhatian dan waktu segenapnya untuk mengasingkan diri demi Tuhannya. Istri Beliau pun memberikan dukungan yang penuh terhadap keinginan Beliau ini.
Muhammad memang telah mendedikasikan hidupnya hanya untuk Allah. Beliau senantiasa mempergunakan masa hidupnya dalam mensyukuri nikmat dari Allah agar menjadi hamba yang semakin sadar akan keagungan dan karunia dari Allah. Hal ini tercermin dalam penggunaan harta bendanya dengan niat untuk beramal salih di jalan Allah. Beliau semakin beruntung karena mendapat dukungan moral yang penuh dari istrinya terhadap sikapnya tersebut.
Setelah Muhammad diutus menjadi rasul, Beliau mendapat perintah berupa suruhan agar menyeru kepada agama Allah, dan dengan demikianlah mulailah fase-fase seruan kepada agama Allah itu. Berikut adalah beberapa fase-fase seruan terhadap Nabi Muhammad saw:
1.      Fase Menyeru Seorang-seorang
Ini adalah fase yang pertama dari fase-fase seruan itu.[23] Pada fase ini, Rasulullah menyeru keluarga dan sahabat-sahabat Beliau yang paling karib. Mereka diseur Beliau kepada pokok-pokok agama Islam yaitu percaya kepada adanya Tuhan dan meninggalkan permujaan kepada berhala.
Dengan kata lain, misi diutusnya Nabi Muhammad saw setelah menjadi rasul agar Beliau meluruskan akidah umatnya dimulai dari yang terdekat terlebih dahulu dengan menyeru kepada pokok-pokok agama Allah dengan menghilangkan sifat kejahiliyahan umatnya yang menyembah kepada berhala. Kemudian, dalam fase ini terdapat beberapa orang yang dapat menerima seruan Muhammad, yaitu isteri Beliau, Ali putera paman Beliau, dan Zaid sahaya Beliau. Abu Bakar pun segera beriman kepada Nabi mengingat hubungan Beliau dengan Nabi amatlah dekat.
Banyak orang yang masuk Islam dengan perantaraan Abu Bakar. Mereka terkenal dengan julukan “Assabiqunal Awwalun” (orang-orang yang lebih dahulu masuk Islam). Mereka ialah: Usman ibnu ‘Affan, Zuber ibnul ‘Awwam, Sa’ad ibnu Abi Waqqash, Abdur Rahman ibnu ‘Auf, Thalhah ibnu ‘Ubaidillah, Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah, dan Al  Arqam ibnu Abil Arqam. Di samping itu, banyak pula hamba-hamba sahaya dan orang-orang miskin yang masuk Islam.
2.      Fase Menyeru Bani Abdul Mutthalib
Fase ini dimulai oleh Rasulullah sesudah Tuhan menurunkan firman-Nya:
            “Beri ingatlah familimu yang dekat-dekat.” (Q.S. Asy-Syu’ara : 214)

Maka Nabi menyeri Bani Abdul Mutthalib. Sesudah mereka berkumpul, berkatalah Nabi:

   “Menurut yang saya ketahui, belum pernah seorang pemuda membawa sesuatu untuk kaumnya yang lebih utama dari apa yang saya bawa untuk kamu. Saya bawa untuk kamu segala kebaikan dunia dan akhirat.”[24]

Perkataan Nabi ini disambut dengan baik dan dibenarkan oleh sebahagian mereka, tetapi sebahagian lagi mendustakannya. Abu Lahab paman Nabi dan istri Abu Lahab sangat mendustakan perkataan Nabi tersebut.
Dalam fase ini, Rasulullah mulai menyeru dengan terang-terangan kepada agama baru ini (Islam). Maka membentanglah jalan untuk fase yang ketiga.
3.      Fase Seruan Umum
Pada fase yang ketiga ini, Rasulullah mulai menyeru segenap lapisan manusia kepada agama Islam dengan terang-terangan; baik golongan bangsawan maupun lapisan hamba sahaya, begitu juga kaum kerabat Beliau sendiri atau orang-orang jauh. Mula-mulanya Beliau menyeru penduduk Mekah, lalu penduduk negeri-negeri lain. Di samping itu, Beliau juga menyeru orang-orang dari bermacam-macam negeri yang berdatangan ke Mekah untuk mengerjakan haji.[25]
Diriwayatkan oleh ahli sejarah bahwa di kala diturunkannya surat An-Nashr, sejumlah pendengar surat ini menangis. Waktu ditanyakan: “Mengapa mereka menangis?” Mereka menjawab: “Bahwa dengan turunnya surat ini, berarti bahwa saat wafatnya Nabi dekatlah sudah.” Karena pertolongan Tuhan itu telah datang, kaum Muslimin pun telah mendapat kemenangan yang gemilang dalam menaklukkan negeri Mekah. Manusia telah datang berduyun-duyun untuk memasuki agama Allah. Sesudah itu, Nabi Muhammad saw disuruh oleh Tuhan meminta ampun.
Dengan penjelasan di atas, dapat diambil kesimpulan telah selesailah kewajiban Muhammad dalam mengemban misi dan amanah Beliau dalam menjadi Rasulullah. Maka oleh Tuhan, disuruhlah Beliau meminta ampun akan segala dosanya dan bersiap untuk menemui Tuhannya.

H.    Masa Terakhir Nabi Muhammad Saw.

Pada tahun 10 H, Nabi mengerjakan haji terakhir, yang dikenal dalam sejarah dengan istilah “Hijjatul Wada”.[26] Bersama Nabi ikut pula mengerjakan haji, kira-kira 100.000 orang Muslimin. Di muka khalayak ramai ini, Nabi mengucapkan satu pidato yang mempunyai daya abadi. Dalam pidato itu, Nabi menyatakan kepada kaum Muslimin yang hadir, bahwa Beliau telah menyampaikan agama Islam dengan sempurna.
Kira-kira tiga bulan sesudah mengerjakan Hijjatul Wada itu, Nabi menderita demam. Amat berat penyakit yang dialami Beliau, sehingga tiada kuasa Beliau keluar untuk mengimami kaum Muslimin bersembahyang, maka disuruhlah Abu Bakar menggantikan Beliau menjadi imam. Ketika itu, Beliau merasakan kecemasan yang dirasakan oleh umatnya terhadapnya karena penyakit tersebut. Beliau juga telah merasa bahwa tiada lama lagi Beliau akan menemui Tuhannya.
Pada suatu hari, karena mengetahui bahwa kaum Muslimin berkerumun di masjid, berduka cita atas penyakit Beliau, maka dengan ditemani oleh Abbas paman Beliau dan Ali ibnu Abi Thalib, Beliau keluar menemui mereka. Beliau seketika itu pula memberikan pidato kepada kaum Muslimin. Kemudian, Beliau memercayakan Anshar kepada Muhajirin dan sebaliknya memercayakan Muhajirin kepada Anshar.
Tak selang beberapa hari setelah itu, dalam usia 63 tahun berpulanglah Beliau ke rahmatullah, yaitu pada hari Senin tanggal 13 Rabiul Awwal tahun 11 H.
Peristiwa wafat Nabi ini amat besar kesan dan pengaruhnya kepada kaum Muslimin. Kendatipun mereka baru saja menerima fatwa-fatwa dari Nabi, tetapi pahlawan-pahlawan ulung yang pemberani itu pun panik juga. Banyak di antara mereka yang tidak memercayai berita wafatnya Nabi yang datang dengan tiba-tiba ini.
Peristiwa wafatnya Nabi ini sampai kepada Abu Bakar. Maka dengan segera Beliau datang menjenguk dan terus masuk ke kamar Rasulullah. Di sana, dilihatnya Rasulullah sedang dibujur, maka dibukanyalah kain yang menutupi muka Rasulullah lalu diciuminya seraya berkata: “Alangkah baiknya Engkau di waktu hidup dan di waktu mati. Jika seandainya Engkau tiada melarang kami menangis, akan kami curahkan air mata ini.
Nabi pun disembahyangkan. Berduyun-duyun manusia menyembahyangkan Beliau. Kemudian, Beliau dimakamkan di tempat Beliau wafat. Nabi Muhammad telah wafat, tetapi ajarannya kekal dan abadi serta senantiasa mengirimkan sinar cahayanya ke seluruh tempat untuk memberi petunjuk kepada orang-orang yang sesat.[27]
























BAB III
PENUTUP

A.    Simpulan
      Sejarah merupakan kondisi ataupun segala peristiwa yang telah terjadi di masa lampau. Peradaban sendiri merupakan keseluruhan kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan juga teknik. Berkaitan dengan istilah Sejarah Peradaban Islam, dapat diartikan sebagai sejarah atau segala sesuatu di masa lampau yang berkaitan dengan kehidupan di berbagai bidang yang terjadi pada agama Islam masyarakat Islam pada masa itu.
Keadaan Dunia sebelum datangnya Islam atau Pra-Islam mengalami keadaan Jahiliyah penduduknya dan belum adanya pembentukan peradaban manusia yang cerah. Kemudian, muncul dan diutusnya Rasulullah saw. Akhirnya mengubah kondisi peradaban dunia dimana ketika itu peradaban Islam mengalami progresivitas yang luar biasa oleh upaya dakwah Rasulullah Saw.
Peradaban Islam pada zaman dahulu mengalami gejolak yang dinamis, di mana Nabi Muhammad Saw. disaat hendak melakukan misi dakwahnya selalu mengalami hambatan dimana-mana, dimulai dari dakwah secara sembunyi-sembunyi hingga secara terang-terangan.

B.     Saran-saran/Rekomendasi
Dengan memahami dan menghayati perjuangan Rasulullah Saw. beserta sahabatnya dan tokoh Islam lainnya dalam kondisi peradaban Islam di masa lampau, diharapkan mahasiswa atau penulis makalah dapat meneladani nilai-nilai moral dan perjuangan Beliau dengan baik. Setidaknya, dengan memahami makna perjuangan mereka, mahasiswa dapat mengapresiasi dan menjunjung tinggi nilai historis Islam itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA
          Fu’adi, Imam. 2011. Sejarah Peradaban Islam. Sleman: Teras.

Fu’adi, Imam. 2012. Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah II. Sleman: Teras.

          Quthb, Muhammad. 1992. Perlukah Menulis Ulang Sejarah Islam?. Jakarta: GEMA INSANI PRESS.

          Khoiriyah. 2012. Reorientasi Wawasan Sejarah Islam: Dari Arab sebelum Islam hingga Dinasti-dinasti Islam. Sleman: Teras.
         
          In’am Ersha, Muhammad. 2011. Percikan Filsafat Sejarah & Peradaban Islam. Malang: UIN-Maliki Press.

          Syalabi, A. 2003. Sejarah dan Kebudayaan Islam I. Jakarta: PT Pustaka Al Husna Baru.

          Jurnal Ilmiah dengan Judul: Romawi dalam Magico Historia, yang ditulis oleh Dra. Hj. Yunani Hasan, M.Pd.





[1] Muhammad In’am Ersha, Percikan Filsafat SPI, Cet. I (Malang: Uin Maliki Press, 2011), hlm. 41
[2] Jurnal Karya Yunani Hasan dengan judul “Romawi dalam Magico Historia”.
[3] A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam I, Cet. VI (Jakarta: PT Pustaka Al Husna Baru, 2003), hlm. 206
[4] Ibid., hlm. 207
[5] Ibid.,
[6] Ibid., hlm. 208
[7] Khoiriyah, Reorientasi Wawasan Sejarah Islam, Cet. I (Sleman: Teras, 2012), hlm. 17
[8] Muhammad Quthb, Perlukah Menulis Ulang Sejarah Islam?, Cet. I (Jakarta: Gema Insani Press, 1992), hlm. 55
[9] Ibid.,hlm. 13

[10] Ibid., hlm. 13-14
[11] Ibid., hlm. 20
[12] Ibid.,
[13] Imam Fu’adi, Sejarah Peradaban Islam, Cet. I (Sleman: Teras, 2011), hlm. 13
[14] Ibid., hlm. 1-2
[15] Ibid., hlm. 13-14
[16] Ibid., hlm. 14
[17] Ibid., hlm. 16
[18] Op. Cit., hlm. 40-41
[19] Ibid., hlm. 42
[20] Ibid., hlm. 44
[21] Imam Fu’adi, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, Cet. I (Sleman: Teras, 2012), hlm. 123
[22] Ibid., hlm. 47
[23] A. Syabali, hlm. 75
[24] Ibid., hlm. 76
[25] Ibid., hlm. 77
[26] Ibid., hlm.189
[27] Ibid., hlm. 191

1 komentar:

PPT PEMBELAJARAN KULIAH SMT 3