PERADABAN DUNIA PRA-ISLAM DAN PADA MASA NABI MUHAMMAD SAW
Makalah
Mata Kuliah : Sejarah Peradaban
Islam
Dosen Pengampu : Failasuf Fadli, M.Si.
Dibuat guna memenuhi tugas Mata Kuliah
Sejarah Peradaban Islam (SPI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Pekalongan

Oleh Kelompok 1:
1.
Muhammad
Chotibul Umam (2023116192)
2.
Anis
Sa’adah (2317149)
3.
Silvia
Dinatus Salimah (2317150)
4.
Uswatun
Khasanah (2317151)
KELAS D
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
PROGRAM STUDI PGMI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PEKALONGAN
|
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah,
puji syukur kehadirat Allah swt. atas izin-Nya makalah yang berjudul“Peradaban Dunia
Pra-Islam dan Pada Masa Nabi Muhammad saw” ini dapat diselesaikan. Salawat dan salam semoga tercurah kepada baginda Nabi Muhammad saw., sahabatnya,
keluarganya, dan umatnya hingga akhir zaman.
Makalah ini dibuat guna memenuhi tugas Mata Kuliah Sejarah Peradaban Islam (SPI) di
lingkungan IAIN Pekalongan. Makalah ini menjelaskan tentang kondisi peradaban
dunia sebelum tumbuhnya agama Islam dan dinamika peradaban dunia Islam pada
masa kenabian Muhammad saw. pada kurun waktu sekitar tahun 610 – 632 Masehi. Hal ini dimaksudkan
untuk membekali mahasiswa FTIK agar memiliki pemahaman dan
apresiasi terhadap kondisi
peradaban Islam pada masa dahulu dan perjuangan tokoh-tokoh penting dalam
sejarah Islam sekaligus membangun mental mahasiswa FTIK sebagai seorang calon
guru MI/SD agar mampu meneladani nilai-nilai positif dan perjuangan dari
kondisi peradaban Islam tersebut.
Penulis sudah berusaha untuk
menyusun makalah ini selengkap mungkin. Penulis juga mengucapkan terima kasih
kepada Dosen Pengampu Mata Kuliah, Bapak Failasuf Fadli, yang telah memberi
amanah kepada penulis untuk mengisi materi penulisan makalah ini. Penulis juga
menerima saran dan kritik dari pembaca guna penyempurnaan penulisan makalah
mendatang.
Akhirnya, makalah ini diharapkan bisa bermanfaat dan membantu
mahasiswa FTIK dalam rangka memahami
Mata Kuliah Sejarah Peradaban Islam di semester satu ini. Amin
yaa rabbal ‘alamin. Selamat
membaca!
Pekalongan,
2 September 2017
Penulis
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar .............................................................................................. ii
Daftar
Isi ...................................................................................................... iii
BAB
I PENDAHULUAN ....................................................................... ….4
A. Latar Belakang Masalah ........................................................ 4
B. Rumusan Masalah .................................................................. 5
C. Sistematika Kerangka Makalah ............................................. 5
BAB II PEMBAHASAN
............................................................................. 6
A.
Peradaban Romawi Timur ..................................................... 6
B.
Peradaban
Persia .................................................................. 13........
C.
Peradaban
Arab Jahiliyah .................................................... 15
D.
Periode Mekah ..................................................................... 18
E.
Periode Madinah .................................................................. 19........
F.
Peperangan dalam
Islam....................................................... 22
G.
Misi Dakwah Nabi
Muhammad Saw ................................... 27
H.
Masa Terakhir
Nabi Muhammad Saw ................................. 30
BAB
III PENUTUP..................................................................................... 33........
A. Simpulan............................................................................... 33
B. Saran-saran/Rekomendasi..................................................... 33
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 34........
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Sejarah
merupakan kondisi ataupun segala peristiwa yang telah terjadi di masa lampau.
Peradaban sendiri merupakan keseluruhan kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan
juga teknik. Berkaitan dengan istilah Sejarah Peradaban Islam, dapat diartikan
sebagai sejarah atau segala sesuatu di masa lampau yang berkaitan dengan
kehidupan di berbagai bidang yang terjadi pada agama Islam masyarakat Islam
pada masa itu. Menurut Effat
al-Sarqawi dalam bukunya Filsafat Kebudayaan Islam (1986:6) menyebut peradaban
dengan istilah al-madaniyah. Madaniyah berasal dari kata madana yang dari kata ini kita kenal
istilah madinah yang berarti kota.[1]
Agama Islam sebagai salah satu agama yang
memiliki pengikut terbanyak di dunia tentu memiliki dinamika historis yang
menarik untuk ditelisik.
Kondisi historikal yang memuat nilai-nilai perjuangan dan hal-hal positif lainnya yang dilakukan oleh para pejuang
Islam dan Rasulullah saw. dianggap sebagai suatu hal yang diharapkan dapat
membangkitkan gairah Umat Islam dalam memahami sejarah Islam khususnya dilihat
dari segi historisnya.
Dari banyak pengalaman, banyak dari
kalangan Umat Islam sendiri yang masih belum memahami kondisi peradaban dari
agama rahmatan lil’alamin ini. Tentu hal ini menjadi suatu hal yang ironis
mengingat kondisi Umat Islam sekarang sudah jauh tertinggal dengan Umat
Non-Islam baik itu dari segi Ilmu Pengetahuan dan Teknologinya,
perekonomiannya, dan kesejahteraan umatnya.
Oleh karena itu, Penulis mengambil judul
makalah seperti yang telah tertulis di atas mengingat arti pentingnya nilai
historis Islam baik itu kondisi peradaban dunia sebelum Islam maupun pada masa
kenabian Muhammad saw.
Makalah ini menyajikan materi yang dimulai
dari Peradaban Romawi Timur, Persia, Arab Jahiliyah, Periode Mekah dan Madinah,
Peperangan dalam Islam, Misi dakwah Nabi Muhammad saw. dan Masa terakhir Nabi
Muhammad saw.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, rumusan masalahnya adalah sebagai berikut.
1.
Bagaimana
kondisi Peradaban Romawi Timur?
2.
Bagaimana
kondisi Peradaban Persia?
3.
Bagaimana
kondisi Peradaban Arab Jahiliyah?
4.
Bagaimana
kondisi Periode Mekah?
5.
Bagaimana
kondisi Periode Madinah?
6.
Apa saja
peperangan dalam Islam yang pernah terjadi di masa lampau?
7.
Apa misi
dakwah Nabi Muhammad saw.?
8. Bagaimana masa-masa terakhir Nabi Muhammad
saw.?
D. Sistematika Kerangka Makalah
Makalah ini ditulis dalam 3 bagian, meliputi:
Bab I, bagian pendahuluan yang terdiri
dari: latar belakang masalah, perumusan masalah,
dan sistematika kerangka makalah;
Bab
II, bagian pembahasan;
Bab III, bagian penutup yang terdiri dari
simpulan dan saran-saran/rekomendasi.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Peradaban
Romawi Timur
Mythologi
Bangsa Roma percaya bahwa kota Roma didirikan oleh dua bersaudara yaitu Romus
dan Remulus pada tahun 750 SM, diatas tujuh buah bukit. Romus dan Remulus
adalah anak dari Rhea Silva salah seorang keturunan Athena, pahlawan Troya yang
berhasil melarikan diri sewaktu kota Troya dikalahkan dan dibakar oleh pasukan
Yunani. Ini adalah cerita yang bersifat Magico Istoria yaitu cerita mythos yang
bertujuan untu mengangkat derajat bangsa Roma sebagai bangsa yang besar di
kemudian hari.[2]
Dalam perkembangan
selanjutnya, akhirnya Roma tampil menjadi pusat peradaban dan politik di
Italia. Bangsa-bangsa yang tinggal di sekitarnya satu demi satu ditundukkannya
baik dengan jalan kekerasan maupun damai. Oleh karena itu para ahli
berkesimpulan bahwa kemunduran kekaisaran Romawi ketika dipindahkannya ibu kota
Roma ke Konstantinopel Agung akhirntya kekaisaran Romawi di bagi menjadi dua.
Romawi barat dengan ibu kotanyaa Roma dan Romawi Timur dengan ibu kotanya Konstantinopel.
Kawasan Romawi adalah daerah yang terletak di laut
Mediterania, di bagian sebelah barat merupakan daerah pantai yang berkontur
landai dengan sungai Tiber sebagai muara. Sehingga daerah ini kemudian
berkembang menjadi sebuah daerah pelabuhan dan pelayaran. Bagian Timur memiliki
jenis tanah pegunungan dengan kontur pantai yang curam. Sedangkan kawasan utara
merupakan daerah pegunungan Alpen.
Kondisi alam yang membuat kecenderungan untuk bertahan hidup
lebih diutamakan., dibidang seni tidak terlalu menjadi perhatian utama
masyarakat Romawi Kuno. Leluhur bangsa Romawi adalah bangsa Latinum, disamping
terdapat percampuran dengan bangsa Etruski2a dan bangsa Yunani. Hal ini
mempengaruhi dan member sumbangan besar kepada kebudayaan Romawi.
Walaupun begitu cirri khas kepribadian orang Romawi yang
bersifat strategis, menonjolkan kekuatan, fungsionl, dan realistis tidak
hilang. Bahkan, telah membuat campuran kebudayaan serapan mereka menjadi suatu
kebudayaan baru dan menjadi asal usul peradaban Eropa di masa depan.
Asal usul berdirinya kerajaan Romawi dapat ditelusuri melalui
cerita mitologi, diceritakan bahwa pendiri awal adalah dua bersaudara yaitu
Remus dan Remulus. Salah satu sumber yang digunakan adalah legenda karya
vergelius yang berjudul “Aeneis”. Kitab tersebut mengisahkan seorang pelarian
dari Troya yang dikalahkan oleh Yunani dalam perang Troya bernama Aeneses ke
negeri Latin di Italia.
Kemudian, puteranya yang bernama Ascanius pindah ke pedalaman
dan mendirikan kota Alba Longa. Beberapa lama kemudian keturunan Aeneas yang
bernama Rhea Silva diusir pamannya yang bernama Amulius karena telah melaihirkan
bayi kembar bernama Remus dan Romulus.
Kedua bayi tersebut diperintahkan untuk dibuang di Sungai
Tiber oleh Amulius. Kedua bayi tersebut dirawat oleh serigala sampai ditemukan
oleh seorang pengembala dan diasuhnya. setelah dewasa mereka mendirikan kota
Roma. Namun Romulus membeunuh Remus dalam suatu pertengkaran sehingga Romulus
menjadi penguasa tunggal di kota tersebut yang dinamai Roma (Hadas, 1975:7).
Ini merupakan suatu cerita yang bersifat Magico Historia, yaitu cerita
mitos yang bertujuan untuk menaikan derajat bangsa Roma sebagai bangsa yang
besar.
Melalui bukti-bukti sejarah mengatakan bahwa dibagian utara
daerah Latinum ada sebuah tempat yang strategis untuk mendirikan sebuah kota.
Beberapa suku kemudian mendirikan perkampungan dengan corak agraris, yang
enjdai tenatngga mereka adalah bangsa Etruksia dan bangsa Yunani. sehingga
perkampungan mendapatkan pengaruh dari tetangganya dalam pengembangan
kebudayaan dan sisitem pemeritahan (Simanjutak, 1952:149).
Dalam perkembangan selanjutnya, Romawi menjadi pusat
peradaban dan politik. Bangsa-bangsa yang disekitarnya satu demi satu
ditundukan baik dengan cara kekerasan maupun dengan jalan damai. Romawi
mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Kaisar Oktavianus Agustus
(31 SM – 13 SM).
Awal berdirinya Romawi berbentuk kerajaan (Monarki) dengan
raja pertamanya Romulus. Raja-raja Romawi berasal dari keturunan pendatang.
Meskipun secara perekonomian mengalami kemajuan namun bangsa latin tidak senang
terhadap penguasa asing yang memberlakukan undang-undang militer kepada mereka.
Terjadilah pemberontakan penduduk Roma berhasil menggulingkan raja Lucius Junius
Brutus pada tahun 500 SM. Sehingga, berakhirlah masa kekaisaran dan mulai
memasuki sistem pemerintahan republik.
Masa Republik, penduduk terbagi atas dua golongan yaitu Patrisia
dan Plebea. Patrisia asal kata bahasa latin patres yang berarti ayah, sedangkan Lebea berasal dari kata Plebs yang berarti orang banyak. Golongan
Patrisia berasal dari kalangan pemilik tanah yang luas atau orang yang secara
turun temurun sudah merupakan kelas aristrokrat (bangsawan). Golongan ini
dianggap sebagai warga negra secara penuh. Orang-orang dari golongan ini
memegang kedudukan dalam lembaga-lembaga politik, seperti konsul, senat, dan
majelis.
Pemerintah Republik Romawi merupakan suatu oligarkhi karena
menduduki posisi penting dalam pemerintahan adalah sekelompok kecil orang-orang
dari golongan Patrici. Dalam perkembangan selanjutnya, untuk memberikan
kesempatan yang sama bagi golongan Plebea duduk dalam lembaga pemerintahan, maka
dibuatlah undang-undang Pertama Roma yang dikenal dengan “dua belas tabel”.
Susunan masyarakat setelah bersatunya golongan bangsawan dan
masyarakat biasa adalah sebagai berikut:
1. Optimat : Terdiri dari bangsa dan rakyat biasa yang
kaya
2. Equites : Para pedagang dan penguasa
3. Populus : Rakyat biasa yang memiliki suara di dewan
rakyat
4. Budak : Tawanan perang yang tidak mempunyai hak
politik
5.
Poletar : Warga negara Romawi yang hanya memiliki dirinya sendiri
Pembagian
sistem militer dimiliki oleh Romawi yaitu Legium, melalui militer yang kuat
mampu membuat ekspansi di seluruh kawasan sungai Tiber dan sekitarnya. Proses
perluasan ekspansi wilayah Romawi membuat terlibat dalam perang Phunichia yang
berlangsung sampai tiga kali. Perubahan sistem pemerintahan di Romawi menjadi
sistem kekaisaran dan menjadi sebuah imperium besar sehingga memunculkan
istilah Pax Romawi, berarti perdamaian dibawah pemerintahan Romawi
sehingga seluruh wilayah menjadi bagian dari imperium yang kuat.
Pada
saat tersebut, imperium Romawi mengalami masa kejayaannya yang diperintah oleh
kaisar Oktavianus Agustus. Proses menjadi penguasa di Romawi di mulai setelah
berhasil mengalahkan Antonius. Senat kemudian mengangkatnya menjadi kaisar yang
pertama dan mendapatkan beberapa gelar, Augustus yang artinya maha mulia
, imperator yang artinya panglima tertinggi. Pontifeks Mazimus yang
artinya kepala agama, dan Princep Civitas yang artinya warga kota yang
utama (Simon, 1975:20).
Setelah
Oktavianus wafat, peristiwa bersejarah yang terjadi pada masa pemerintahannya
adalah lahirnya gerakan agama baru di wilayah kependudukan kekaisaran Romawi di
Palestina, yaitu agama Kristen. Agama baru ini disampaikan oleh yesus kristus,
maka para pengikut agama ini disebut dengan imperium yang sangat luas melalui
sistem federal daripada menjalankan sistem desentralisasi.
Tiap-tiap negara bagian mendapatkan kewenangan untuk
menyelenggarakan pemerintahan sendiri, dengan menjalankan kewajiban membayar
pajak, membantu penyiapan perlengkapan perang saudara dan menjadi salah satu
penyebab kemundurannya.
Faktor-faktor
penyebab kehancuran dari kekaisaran Romawi Barat adalah:
1. Tidak ada pemimpin
yang mampu memimpin seluruh wilayah Romawi yang sangat luas.
2. Melemahnya pertahanan
Romawi, pada mulanya masalah pertahanan menjadi kewajiban warganya. Tetapi
setelah mereka menikmati kekayaan yang diperoleh dri daerah jajahannya.
Sehingga untuk pertahanan mereka menyerahkannya kepad tentara bayaran yang tidak
memiliki semangat warga negara Romawi sendiri.
3.
Pecahnya kekaisaran Romawi menjadi dua memberikan peluang bagi bangsa lain untuk
menyerang dan memasuki wilayah Romawi.
Beberapa
kekaisaran yang memerintah pada saat menjelang kejatuhannya diantaranya :
Diocletianus, merupakan
kaisar yang kejam dengan memerintahkan pembunuhan terhadap pengikut agama
Kristen. Bagi yang berhasil menyelamatkan membuat lubang perlindungan digua-gua
karang yang disebut Catacombe.
Konstantin agung,
dengan memidnahkan ibukota Romawi dari Roma ke Bizantium (konstatinopel) yang
kini disebut dengan Istambul. Pda tahun 103 M mengeluarkan edic Milan yang
berisikan perintah mengentikan pengajaran terhadap umat Kristen.
Thedosius, menetapkan agama Kristen sebagai agama negara dan membagi wilayah
kekaisaran untuk kedua putranyaa. Kekaisaran Romawi Barat dengan ibukota Roma
diberikan kepada Honorius, dan Archadius berkuasa di Romawi Timur dengan
ibukotanya konstatinopel.
Kota
Roma mengalami kemunduran yang mengakibatkan Romawi Barat terpecah menjadi
beberapa kerajaan yang diperintah oleh raja-raja Germnia Goth Timur dan Goth
Barat. Dan Romawi Timur muncul menjadi tempat yang memiliki nilai strategis dan
sangat tinggi, secara politik dan ekonomi.Wilayah Romawi Timur meliputi
semenanjung Balkan, Asia kecil (Sampai Armenia), Syiria, dan Mesir. Setelah
tahun 476 M hubungan Romawi Barat dan Romawi Timur terputus. Romawi Timur dapat
bertahan sampai tahun 1453 H, namun wilayah ini kemudian dikuasi oleh Turki.
TUMBUH DAN PERKEMBANGNYA ROMAWI TIMUR
Berakhir
masa kekaisarahn Romawi Barat (476 M), maka dimulailah masa kekaisaran Romawi
Timur dengan ibukotanya Konstatinopel. Konstatinopel didirikan oleh orang
Yunani yang bernama Byzas seorang pembuka kolonji Yunani berlayar kearah timur
laut Aegera. Ia melewati selat Dardanela dan menyebrangi laut Mermara. Kemudian,
ia mencapai selat Bossporus, di sini didirikan kota yang bernama menurut
namanya yaitu Byzantium (Sherrat, 1979:31).Byzantium bukan kota yang didirikan
oleh kaisar konstatin agung, tetapi pada mulanya hanyalah merupakan koloni
bangsa Yunani, sampai kemudian dijadikan oleh kaisar Romawi menjadi ibu kota
Romawi Timur.
Tahun
330 M berkembng menjadi Roma baru yang dikenal sebagai Konstatinopel. Kota
Konstatinopel terletak didaerah yang strategis, baik dari segi militer dan
ekonomi. Dari segii militer, konstatinopel lebih mudah dipertahankan dari
serangan musuh karena muemiliki daerah pedalaman yang begunung-gunung dan
didepannya membentang selat Dardanela.
Untuk memperkuat pertahanan kota-kota didaerah pedalaman
dibangun tembok tebal dan tinggi yang dikelilingi oleh parit. Dari segi ekonomi
konstatinopel dapat mengawasi dn menguasai jalan perdagangan ke laut hitam yang
menjadi sumber gandum Eropa, disamping itu pelaqbuhan yang terdapat disekitar
laut hitam dan selat borporus selalu dilaui oleh kapal dagang.Daerah Anatolia
dan Mesir mengalir bahyan makanan yang dpat dipergunakan untuk keperluan
penduduki kota.
Rute niaga Byzantium menghubungkan antara Timur dan Barat
d[at menguasai jalur perdagangan dari Eropa ke Asia dan sebaliknya, dari Asia
ke Eropa. Hal ini faktor pendukung kekaisaran Romawi Timur mampu bertahan lebih
lama selain adanya pemberian upeti dari wilayah Asia kecil,Syaria, dan Mesir
yang sangat kaya (Sherrrad, 1973:33). Letak Bizantium yang sangat strategis
membawa keuntungan dibidang ekonomi, karena berfungsi pelabuhannya menjadi
Bandar transito bagi daerah-daerah laut tengah, dapat juga dikatakan menjadi
Bandar pengubung antara dunia barat dan dunia timur dalam bidang perdagangan.
Salah satu kaisar yang memberikan banyak perubahan terhadap
konstatinopel adalah kasiar Yustinianus memerintah di Romawi Timur. Perubahan
tersebut memiliki bertujuan untuk mengembalikan kemegahan yang pernah dicapai
oleh Romawi sebelum mengalami perpecahan, dan merebut kembali wilayah yang
pernah menjadi bagian dari Romawi.
Sumbangan yang diberikan kasiar di bidang hukum dan
arsitektur diantaranya, Codex Yustianus merupakan kumpulan perintah yang
pernah dikeluarkan kaisar yang kemudian menjadi sumber hokum di Romawi Timur. Sedangkan
dibidang arsitektur, peninggalannya adalah gedung gereja ayasopia, yang
merupakan contoh dari budaya Yunani dan Romawi Kuno. Sehingga, Bizantium
menjadi pemelihara keagungan Yunani dan Romawi. Pengaruh seni Bizantium
menyebar ke seluruh kawan Eropa.
Peristiwa yang paling penting dalam masa pemerintahan Kaisar
Yustianus adalah terjadinya perpecahan dalam ajaran agama kristen katolik. Pada
tahun 1054 M yang melahirkan aliran katolik Ortodoks dan katolik Romawi. Perbedaan
tersebut berasal dari pandangan berbeda tentang kedudukan Yesus Kristus,
Katolik Romawi mengaku bahwa Yesus merupakan Tuhan, Anak Tuhan dan Rasul.
Sedangkan Katolik Ortodoks mengakui bahwa Yesus merupakan Rasul bukan Tuhan
ataupun Anak Tuhan. (Osman, 1979:12)
Setelah Kaisar Yustianus wafat maka diangkatlah Heraklius
(610-641). Pada masa pemerintahannya, Byzantium mengalami serangan diantaranya
dari Bangsa Slavia yang berhasil mengambil sebagian dari daerah balkan dan
daerah perbatasan Konstantinopel. Persia
berhasil menduduki Antiochha, Damaskus, Baitul Mukadas, dan pada tahun 614 M
berhasil mendapatkan Mesir. Melalui perjuangan yang berat akhirnya kawasan
tersebut berhasil kembali dikuasai sehingga kelangsungan hidup Romawi Timur
dapat bertahan lama. Namun, dengan munculnya Agama Islam maka Byzantium harus
kembali menghadapi serangan dari bangsa yang baru.
B.
Peradaban
Persia
Telah berselang kira-kira seperempat abad dari lahirnya agama
Islam, tatkala pertempuran-pertempuran itu terjadi. Bangsa Persia dan Bangsa
Romawi mendengar kedatangan agama Islam dan mendengar pula kemenangan-kemenangan
yang dicapai oleh kaum Muslimin. Mereka dengar keterangan tentang dasar-dasar
Islam yang bersifat toleransi itu. Bagi mereka adalah pendengaran pertama kali adanya
suatu agama yang memberikan hak sama antara raja dan rakyat.[3]
Untuk pertama kali mereka mendengar p[ejabat-pejabat
pemerintahan yang miskin, yang menambal kain bajunya dan menempeli terompahnya
dengan tangannya sendiri. Mereka mendengar dan mengetahui keadaan yang
demikian. Mereka rasakan sendiri betapa jauh perbedaan lapangan kehidupan yang
mereka rasakan dengan langgam kehidupan yang dirasakan kaum Muslimin.[4]
Pembesar-pembesar Persia sendiri telah menginsafi pula bahwa
laskar Persia berperang tidaklah dengan keyakinan, bahwa mereka tidak ingin
sehingga terpaksalah Hormaz panglima Persia itu, dalam salah satu pertempuran dengan
kaum Muslimin, mengikat bala tentaranya dengan rantai, supaya mereka tiada
dapat melarikan diri dari medan pertempuran.
Bangsa Romawipun pernah berbuat demikian. Diriwatkan
oleh Al-Baladzuri bahwa bangsa Romawi pada pertempuran di Yarmuk mengikat diri
mereka dengan rantai, agar mereka tidak melarikan diri dari medan perang dan tersiarlah
di Persia suatu keyakinan yang dikenal dengan nama: “Hak Ketuhanan Yang Suci”.
Menurut keyakinan ini raja-raja adalah bayangan Tuhan di atas bumi. Dengan
demikian, amat luaslah jurang yang memisahkan antara raja dengan rakyatnya.[5]
Ketika itu, Bangsa Persia dan Bangsa Romawi saling
berperang-perangan. Peperangan antara kedua negara itu boleh dikatakan
terus-menerus. Dalam peperangan itu kadang-kadang bangsa Persia yang menang dan
kadang-kadang bangsa Romawi. Akan tetapi, peperangan selamanya mengakibatkan
kelemahan, biarpun kepada pihak yang kalah atau yang menang.
Imperium Romawi adalah salah satu imperium yang amat
luas, yang membujur mulai dari semenanjung Iberia sampai ke Syam, Mesir dan
Afrika Utara. Imperium ini melingkupi beberapa negara dan berjenis-jenis bangsa
manusia. Sedang kaisar-kaisarnya terkenal dalam sejarah sebagai kaisar-kaisar
yang kejam dan berdarah penjajah.[6]
Kerap kali negara-negara yang telah mereka taklukkan memberontak, maka mereka
ajarlah pemberontak-pemberontak itu dengan bengis dan kejam. Darah mereka ditumpahkan dan harta mereka
dirampas.
Adapun Persia, hanyalah terdiri dari satu negara. Akan
tetapi, penindasan keagamaan sedang menjadi-jadi. Pemerintah keluarga Sasan yg
telah memerintah kira-kira empat abad lamanya telah mengalami kelemahan.
Akhirnya, pemerintah dipegang oleh Yazdigird III. Raja inilah raja yang
terakhir dari keluarga Sasan.
C.
Peradaban Arab Jahiliyah
Masa sebelum
lahirnya Islam disebut Zaman Jahiliyah, masa kegelapan dan kebodohan dalam hal
agama. Kata Jahiliyah berasal dari Jahl,
yang dimaksud adalah Jahl dalam Hilm bukan dari Ilm yang artinya kemunduran
moral atau (kebodohan dalam hal agama), bukan dalam hal lain, seperti ekonomi
perdagangan dan sastra.[7]
Jadi yang dimaksud dengan Jahl di sini adalah tidak mengetahui hakikat Tuhan
sehingga mendorong mereka menyuruh Musa membuat Tuhan berupa patung yang bias
disentuh dan dilihat untuk mereka sembah.[8]
Sebelum Islam lahir, ada diantara bangsa
Arab yang berpikir untuk melepaskan diri dari berhala dan kufarat. Mereka
menganut agam Tauhid yaitu agama Nabi Ibrahim AS. Agama ini disebut Hanif.
Mereka mempercayai Allah sebagai pencipta alam. Keyakinan itu dicampur adukkan
dengan tahayul dan dan kemusyrikan, seperti menyekutukan Allah dengan bulan,
matahari, berhala, dan lainnya.[9]
Kepercayaan yang menyimpang dari agama Hanif disebut Watsaniyah. Agama ini mensyariatkan Allah dengan menyembah :
Anshab, Autsan dan Ashnam. Anshab merupakan batu yang belum memiliki bentuk,
Autsan merupakan patung yang terbuat dari batu dan ashnam merupakan patung yang
terbuat dari kayu, emas, perak, logam dan patung yang tidak terbuat dari batu.
Mereka menyembah berhala yang merupakan kiblat dan penentu peribadatan.[10]
Mereka mengaku menurut agama Nabi Ibrahim
tetapi tidak tercermin dalam perbuatan mereka. Hampir rata-rata mereka menyembah
berhala. Ka’bah yang merupakan sentral keagamaan terdapat 360 berhala yang
mengelilingi Hubal (berhala terbesar) dan dianggap sebagai dewa. Asal mula
penyembah berhala karena mereka mensucikan dan menyembah batu-batu yang
disekitar Ka’bah kemudian mereka membawanya kemana-mana.
Disamping itu, ada beberapa berhala yang berasal dari luar kota Mekkah,
anatara lain Manah (Manata) dari Yatsrib, al-Latta dari Thaif, dan al-Uzza dari
Hijaz yang merupakan berhala tertua. Selain menyembah berhala, agama dan kepercayaan
lain juga dipegang oleh bangsa Arab. Ada beberapa kabilah yang menganut agama
Yahudi dan Masehi. Penduduk Yaman, Najran dan Syam memeluk agama Masehi.
Penduduk Hirah dan Ghassan memeluk agama Nasrani.
Ada pula yang memeluk agama Majusi (Mazdaisme), agama orag Arab yang lebih
berdekatan dengan Persia, juga oleh orang Arab Iraq dan Bahrain serta wilayah
pesisir teluk Arab dan Yaman. Sedangkana agama Shabi’ah berkembang di Iraq dan
lainnya yang dianggap sebagai agama kaum Ibrahim Chaldeans. Banyak penduduk
Syam dan Yaman yang memeluknya. Setelah kedatanga agama Yahudi dan Nasrani, agama
Shabi’ah mulai surut.
Orang-orang Arab juga mengundi nasib dengan menggunakan al-azlam atau anak panah yang tidak ada
bulunya. Hal ini berkaitan dengan kehendak mereka dalam mengambil keputusan
seperti menikah, bepergian, dan lain-lainya. Mereka juga melakukan perjudian
dan undian. Mereka juga percaya kepada perkataan peramal (orang yang bisa
mengabarkan sesuatu yang akan datang), orang pintar dan ahli nujum. Semua gambaran
tersebut adalah perbuatan syirik.
Kondisi sosial masyarakat Arab Jahillyah adalah poligami tanpa ada batas
maksimal tanpa pandang bulu siapa yang dinikahinya. Begitu juga dengan
perzinaan. Secara garis besar, kondisi sosial masyarakat Arab dahulu bisa
dikatakan merosot dan lemah (Jahiliyah), kebodohan dan kegelapan mewarnai
segala aspek kehidupan, kurafat tidak bisa lepas, manusia hidup layaknya
binatang, wanita diperlakukan seperti benda mati dan perjualbelikan.
Orang Arab sering berpindah tempat dalam mencari rizki karena keadaan tanah
yang kurang subur di daerah semenanjung Arab. Orang-orang Arab suka memelihara
unta untuk dikendarai, dan menggembalakan ternak berupa domba, kambing, kuda
dan lain-lain untuk penghidupan mereka. Sebagian diantara mereka ada yang
berdagang. Dalam hal ekonomi perdagangan, bangsa Arab mengalami kemajuan yang
sangat pesat.
Perdagangan di Mekkah menjadi semakin maju karena menjalin hubungan dengan
bangsa lain seperti Syiria, Persia, Habsyi, Mesir dan Romawi. orang Arab juga mengenal
perindustrian dan kerajinan seperti jahit-menjahit, menyamak kulit, dan lainnya
yang berasal dari rakyat Yaman, Hirah dan Syam. Wanita-wanita Arab lah yang
menangani pemintalannya. Sedangkan pertanian di Arab hanya didaerah tertentu
yang subur dan menghasilkan.
Sistem pemerintahan bangsa Arab sebelum Islam, dimulai oleh golongan Arab Baidah. Periode
ini disebut juga periode pertama sejarah pemerintahan bangsa Arab. Mereka mendirikan
kerjaan di daerah al-Ahkaf al-Ramel yang terletak di yaman dan Oman, yang
kemudian tersebar di Irak, Syiria, India dan Juhfah (antara Mekkah dan
Yatsrib), selain itu Arab Baidah juga mendirikan kerajaan Tsamud dan kerajaan
al-ambath (Amaliqah).[11]
Periode kedua adalah Arab Aribah atau Muta’arribah.
Kerajaan-kerajaan yang pernah berdiri pada periode kedua di Yaman, antaralain
Ma’iniyah, kerajaan Saba’, dan kerajaan Himyar. Periode ketiga adalah periode
Arab Musta’ribah. Pusat kekuasaannya adalah Makkah dan Yatsrib. Ada dua
kerajaan besar yang berdiri yaitu kerajaan Gassasinah dan kerajaan Hirah.
Selain itu juga terdapat kerajaan-kerajaan lain.[12]
D. Periode
Mekah
Dalam sejarah Peradaban Islam, sejarah hidup Nabi
Muhammad saw. biasanya dibedakan menjadi dua, yaitu ketika Nabi Muhammad
menjalani hidupnya di Mekah dan Madinah. Sejarah masa hidup Nabi ini selain
dikaji dalam bidang sejarah, kerap kali pula mendapatkan perhatia di bidang
disiplin lain seperti studi Alquran. Situasi dan kondisi yang dihadapi Nabi
Muhammad menjadikan perbedaan tema-tema sentral dalam ajaran Islam melalui
wahyu yang diterima Rasulullah.[13]
Sebelum Islam datang di tanah Arab, sebenarnya
masyarakat Arab bukan tidak berkeyaknan, mereka sudah memiliki keyakinan
tertentu yang dikenal dengan Paganisme, mereka tidak mengingkari adanya Tuhan,
tetapi umumnya mereka menggunakan perantara yaitu patung-patung atau berhala
untuk menyembah Tuhan mereka.[14] Orang
Arab dalam hidupnya suka berpindah-pindah tempat atau nomaden, mereka suka
mengembara kemana-mana.
Itu semua disebabkan oleh kondisi alam bangsa Arab
yang kebanyakan tandus dan kurang subur. Dengan kondisi alam seperti ini,
mereka memiliki watak keras. Mereka suka berperang dengan kaum laki-laki
dominan dalam posisi ini, sehingga ketika mereka memiliki anak laki-laki mereka
banggan, dan sebaliknya ketika memiliki anak perempuan mereka malu dan
menganggap itu sebagai aib, karena mereka berpikir bahwa anak perempuan tidak
bisa diajak perang, maka banyak yang mereka bunuh.
Dalam kondisi masyarakat semacam itulah Nabi Muhammad
diutus. Muhammad terbilang sebagai anak yatim karena ayahnya meninggal ketika
dia masih dalam kandungan. Dan pada masa usia Muhammad mencapai enam tahun, dia
menjadi yatim piatu ketika dia diajak ibunya ke Madinah dalam rangka berziarah
ke makam ayahnya. Dalam perjalanan pulang dari Madinah, Aminah jatuh sakit yang
menyebabkannya meninggal dunia.
Sebagian penulis berpendapat bahwa sebenarnya
orang-orang Quraisy tidak sepenuhnya percaya terhadap berhala dan tidak
benar-benar mempertahankan Tuhan-tuhan mereka.mereka hanya menjadikan
berhala-berhala itu sebagai alat bukan tujuan untuk mengelabuhi orang-orang
Arab agar mudah ditipu dan diperas. Karena faktor itulah sehingga masyarakat
Quraisy sulit menerima dakwah Rasulullah saw.
E. Periode
Madinah
Rosulullah bersama para sahabat melakukan hijrah ke
Madinah. Sebenarnya ada beberapa sebab utama yang membuat Nabi Hijrah ke
Madinah, yaitu : pertama, perbedaan iklim di kedua kota itu mempercepat
dilakukannya hijrah. Iklim Madinah yang lembut dan watak rakyatnya yang tenang
sangat mendorong penyebaran dan pengembangan agama Islam. Sebaliknya, kota
Mekkah tidak mempunyai dua kemudahan itu. Sehingga hijrah ke Madinah.
Kedua, nabi-nabi umumnya tidak dihormati di
negara-negaranya sehingga Nabi Muhammad pun tidak diterima oleh kaumnya
sendiri. Akan tetapi disukai sebagai Nabi Allah, oleh karena orang-orang
Madinah dan dia sungguh diundangnya. Ketiga, tantangan Nabi hadapi tidaklah
sekeras di Mekkah. Golongan Pendeta dan kaum ningrat Quraisy yang menganggap
Islam bertetangan dengan kepentingan mereka. Ini sungguh berbeda dengan sikap
penduduk Madinah terhadap Nabi.[15]
Dalam perjalanan hijrah itu, Nabi Muhammad SAW tiba di
Madinah pada tanggal 27 September 822 M bertepatan dengan Hari senin Tanggal 12
Rabiul Awal, yang kemudian oleh Khilafah Umar bin Khattab ditetapkan sebagai
tahun pertama Hijriah. Sebelum sampai di Madinah, Nabi singgah di Qubah dan
mendirikan Masjid yang pertama dalam sejarah Islam, di daerah itu. Kemudian
melakukan sholat jum’at pertama yang berisikan tahmid, sholawat dan salam,
pesan bertaqwa dan do’a kesejahteraan bagi kaum Muslimin.[16]
Apa yang dilakukan Rosulullah dengan sholat Jum’at
tersebut sesungguhnya merupakan simbol persatuan umat Islam ditengan-tengah
kuatnya kesukuan penduduk Madinah, dan masjid dari segi agama berfungsi sebagai
tempat ibadah, sedangkan dari segi sosial berfungsi sebagai tempat untuk
mempercepat ikatan sesama muslim, menyatukan umat Islam dan menyambung tali
silaturrahim antar umat Islam untuk mempersaudarakan semua kaum muslim di
Madinah.
Selanjutnya dalam sejarah Islam, penduduk Madinah yang
menyambut kedatangan Rosulullah bersama sahabat ini mendapat julukan kaum
Anshar, karena prestasi dan jasanya yang besar terhadap Islam. Dan orang-orang
Islam di Mekkah yang ikut hijrah ke
Madinah dengan predikat Muhajirin, karena kesetiaan dan pengorbanananya yang
besar terhadap Islam. Predikat ini merupakan langkah strategis dalam antisipasi
terhadap propaganda orang-orang Yahudi yang tidak senang dengan persatuan
antara kaum Anshar dan Muhajirin.
Setelah Rosulullah membangun Masjid sebagai sarana
untuk mempersaudarakan kaum Muslimin di Kota Madinah, selanjutnya Rosulullah
juga melakukan pembangunan sosial, ekonomi dan politik negara Madinah. Bai’at
Abaqah yang dulu dilakukan kemudian begitu nyata yaitu dengan didukungnya Nabi
Muhammad oleh sebagian besar suku Aus dan Kazraj yang memudahkannya dalam
menggalang potensi mereka untuk disatukan menjadi bangsa yang berdaulat membuat
perjanjian untuk saling membantu antara muslim dan non muslim.
Perjanjian
tersebut didokumentasikan dalam piagam Madinah, yang menurut Ahmad Syalabi secara
umum berisikan antara lain bahwa kelompok ini mempunyai pribadi keagamaan dan
politik, kebebasan beragama terjamin semua, kewajiban penduduk Madinah, baik
yang Muslim maupun bangsa Yahudi, bantu membantu secara moril dan materil, dan
Rosulullah adalah pemimpin tertinggi penduduk Madinah. Butir-butir dalam piagam
Madinah tersebut merupakan kesepakatan bersama yang mendasari berdirinya negara
Madinah.
Selain
itu selama Nabi sebagai kepala negra Madinah, beliau melakukan kebijakan satu
sama lain memiliki kaitan antara lain pertama, intensifikasi pemantapan sosio
ekonomi politik.[17] Oleh
sebab itu ayat-ayatAl-Qur’an pada periode Madinah ini diturunkan terutama
ditujukan untuk pembinaan hukum, dan Rosulullah menjelaskan ayat-ayat yang
belum jelas dan terperinci itu dengan perbuatan-perbuatan beliau, seperti
sistem syura dalam politik, persamaan derajat antar sesama, perbedaan karena
taqwa dan amal sholeh, dan lain-lain.
Dalam
periode Madinah inilah Rosulullah benar-benar dapat membina masyarakat yang
kondusif, sehingga di bawah kepemimpinan Rosulullah, Madinah menjadi wilayah
yang diperhitungkan. Kepemimpinannya sebagai panglima perang pun juga teruji
dalam beberapa peperangan yang dilkukannya, baik yang tergolong ghazwah atau
sariyah, sampai dengan peristiwa dengan fath Mekkah yang monumental, yaitu
peperangan tanpa adanya pertumpahan darah.
Ajakan
masuk Islam kepada pemimpin-pemimpin dunia melalui surat yang beliau kirimkan
merupakan langkah politis yang angat berani. Kemampuannya dengan kebinekaan
kabilah dan suku, serta mempersaudarakannya adalah ukt misi risalah yang
dibawanya berdimensi religius dan sosial politik. Dan satu bukti sejarah bahwa
nabi seorang kepala negara di Madinah adalah munculnya persoalan siapaah yang
menggantikan Rosulullah sebagai pemimpin wilayah itu setelah Rosulllah wafat.
F.
Peperangan dalam Islam
Banyak peperangan yang terjadi sebagai upaya kaum
muslimin dalam mempertahankan diri dari serangan musuh. Diawal pemerintahan, nabi
melakukan ekspedisi ke luar untuk mempertahankan dan melindungi negara yang
baru dibentuk. Untuk menghadapi kemungkinan serangan musuh, nabi membuat isasat
dan membentuk pasukan perang. Umat Islam diijinkan perang karena ada dua tujuan
: untuk melindungi diri dan untuk mejaga keselamatan dalam penyebaran kepercayaan
dan mempertahankan diri dari penghalang.[18]
Beberapa
perang yang pernah terjadi dalam rangka menentukan masa depan negara Islam
antara lain:
1.
Perang Badar
Perang
Badar al-Kubra terjadi pada tanggal 8 bulan Ramadhan tahun kedua Hijriyah (624
M), yaitu anatara kaum muslimin Madinah dibawah pimpinan Rosulullah melawan
kaum Quraisy. Sebab-sebab terjadinya perang Badar antara lain kaum Quraisy
ingin melenyapkan musuhnya padahal mereka telah merampas harta kaum muslimin di
Mekkah. Bila kaum Quraisy menang, maka jalur perdagangan ke utara akan aman
tanpa gangguan, jika kalah maka
perdagangan terganggu yang akan merugikan perniagaan kaum Quraisy.
Medan
pertempuran terjadi di lembah Badar antara Mekkah dan Madinah, kurang lebih
144,5 km sebelah barat daya dari Madinah. Perang ini diikuti oleh kaum Quraisy
dipimpin oleh Utbah bin Rabiah, Al-Walid putra Utbah dan Saibah, saudara Utbah.
Sedangkan pasukan Islam dipimpin oleh Ubaidah bin Haris, Hamzah dan Ali bin Abi
Thalib. Pasukan Quraisy sebanyak 900-1000 orang, sedangkan pengikut Islam hanya
305 orang. Pertempuran ini akhirnya dimenangkan oleh kaum Muslimin.
Setelah
perang Badar, nabi menyerang suku Yahudi Madinah dan Qoinuqa yang berkomplot
dengan orang-orang Quraisy Mekkah. Mereka akhirnya meninggalkan Madinah menuju
perbatasan Syiria. Suku badui yang melihat kemenangan kaum muslimin pada perang
Badar dan semakin meningkatnya kekuatan Islam, ingin sekali menjalin hubugan
dengan Nabi. Kemudian Nabi menandatangani sebuah piagam perjanjian dengan suku
badui.
2.
Perang Uhud
Perang
Uhud terjadi pada bulan Sya’ban tahun ke-3 H di kaki Gunung Uhud yang terletak
di utara Madinah. Sebab perang ini terjadi adalah kaum Quraisy ingin menebus
kekalahan yang dideritanya pada wakt perang Badar. Bagi mereka, kekalahan pada
perang Badar meruakan pukulan yang sangat berat.[19]
Perang
ini diikuti oleh Abu Sufian membawa pasukan 3000 orang berkendaraan unta, 200
orang berkendaraan kuda di bawah pimpinan Khalid bin Walid dan 700 orang berbju
besi. Pasukan Nabi berjumlah sekitar 1000 orang, tetapi sampai di perbatasan
kota, 3000 orang Yahudi dengan Abdullah bin Ubay kembali ke Madinah. Pasukan
Islam tinggal 700 orang. Di bukit Uhud kedua pasukan bertemu dan terjadlah
prang dahsyat. Pada awalnya pasukan Islam menang karena disiplin dan strategi
jitu meski jumlanya lebih kecil.
Akan tetapi, kemudian
karena godaan harta peninggalan musuh pasukan Islam mulai memungut dengan tidak
menghiraukan gerakan musuh meskipun sudah diperingatkan oleh Nabi agar tidak
meninggalka posnya. Kelengahan kaum Muslimin ini dimanfaatkan oleh musuh.
Pasukan Quraisy kemudian menyerang dan pasukan Islampun porak-poranda. Banyak
kaum muslimin yang gugur sebagai syahid dalam perang Uhud sebanyak 70 orang
Nabi pun juga terluka.
3.
Perang Khandaq
Perang
ini terjadi pada bulan Syawal tahun ke-5 H, bertempat di sekitar Madinah.
Dinamakan ahzab/sekutu karena kaum Quraisy mengajak suku-suku lain untuk
bergabung dan dikatakan khandaq karena disekitar Madinah terutama bagian utara
kota Khandaq, usul Salman Al-Farisi untuk mempertahankan dari serangan musuh.
Pasukan
Yahudi yang membela bersama Abdullah bin Ubay termasuk Bani Nadir kecuali (Bani
Quraiza) diusir keluar kota Madinah. Mereka menuju Khaibar dan bergabung dengan
masyarakat Mekkah menyusun kekuatan untuk menyerang Madinah. Pasukan mereka
berjumlah 2400 orang yang terdiri dari beberapa suku. Sementara pasukan Madinah ada yag berkhianat yaitu
orang-orang Yahudi di bawah pimpinan Ka’ab bin Asad yang membuat umat Islam
semakin terjepit.
Pasukan
sekutu mengepung Madinah dengan mendirikan kemah-kemah diluar Parit.Setelah
sebualan pengepungan ,angin dan badai pun turun dengan kencangnya dan merusak
seluruh kemah dan perlengkaannya.
Mereka
akhirnya menghentikan pengepungan dan kembali ke nengeri masing-masing tanpa
hasil apapun.
Pada
tahun 628 M atau tahun ke-6 H,ketika itu Nabi memutuskan untuk di mulainya
nasionalisasi islam,ketersambungan islam dengan agama Yahudi dan kristen
,jum’at menggantikan sabtu,azan menggatikan suara terompet dan goang ,Ramadhan
ditetapkan sebagai bulan puasa ,kiblat shalat dipindah kan dari Yerussalem
menuju Makkah ,ibadah haji di syari’atkan dan mencium hajar aswad sebagai
ritual islam.
Nabi
memimpin delegasi kaum muslimin berangkat ke Makkah untuk melaukan umrah dengan
berihram tanpa senjata.Mereka sampai di Hudaibiyah, berjarak 15,3 Km dari
Makkah dan berkemh disana. Penduduk
Makkah tidak mengizinkan untuk memasuki kotanya. Kemudian, diadakanlah perjanjian
yang dikenal dengan nama Perjanjian Hudaibiyah.[20]
Isi
perjanjian Hudaibiyah :
-Kaum
muslimin boleh mengunjungi ka’bah tetapi di tangguhkan sampai dengan tahun
depan
-Lama
kunjungan dibatasi sampai 3 hari saja
-Kaum
muslimin wajib mengembalikan orang-orang Makkah yang melarikan diri ke Madinah
selama 10 tahun
-Diadakan
genjatan senjat-Setiap kabilah bebas untuk masuk kedalam persekutuan
4.Perang
Khaibar
Perang
Khaibar terjadi pada tahun ke-7H.Khaubar merupakan nama ebuah kota yang
penduduknya orang-orang Yahudi dari golongan yang pernah bersekutu dengan
dengan kaum Quraisy dalam perang Khandaq.Nabi Muhammad Saw membawa 1600 pasukan
di bawah panglima perang Ali bin Abi Thalib menyerang mereka dan mengepung
selama 6 hari.Pasukan islam berhasil mengalahkan mereka pada hari yang ke-7.
5. Perang Mu’tah
Perang
Mu’tah terjadi pada tahun ke-8 H di dekat desa Mu’tah, bagian utara Jazirah
rab. Sebab perang ini berlangsung adalah tuntutan membalas perlakuan kejam dari
raja Ghassan yang telah membunuh utusan yang dikirim nabi dalam rangka dakwah
Islam. Sebelumnya, nabi telah mengirim surat kepada kepala-kepala negara dalam
rangka mengislamkan mereka. Raja-raja yang dikirimi surat antara lain raja
Ghassan, Abesinia, Persia, dan Romawi. Mereka menolak ajakan Nabi untuk memeluk
Islam.
Nabi
mengirim pasukan sebanyak
3000 orang di bawah pimpinan Zaid bin Haritsah. Pasukan Ghassan mendapat
bantuan dari Romawi yang akhirya peperangan tidak berimbang. Jumlah mereka
mencapai 20.000 orang. Kemudian perang dahsyat ini telah menggugurkan pahlawan
Islam sebagai syahid yaitu Zaid bin Haritsah dan Ja’far bin Abi Thalib.
Akhirnya Khalid bin Walid yang sudah masuk Islam mengambil alih komando dan
menarik pasukannya kembal menuju Madinah.
5.
Perang Hunain
Perang
Hunain terjadi pada tahun ke-8 H. Hunain adalah nama lembah tempat terjadinya
perang ini. Sebab terjadinya perang
Hunain adalaj masih adanya dua suku arab yang menentang Bani Tsaif di Thaif dan
Bani Hawazin diantara Taif dan Mekkah, meskipun Mekkah sudah ditaklukkan. Mereka
ingin menuntut bela atas diruntuhkannya berhala-berhala mereka oleh Nabi.
Mereka kemudian membentuk pasukan untuk memerangi Islam. Untuk menghadapi
mereka, nabi mengerahkan 12.000 orang pasukan dibawah pimpinan Nabi.
Pada
awalnya, kaum muslimin menderita kekalahan. Kaum muslimin tidak waspada
terhadap tipu daya musuh dan terpedaya
oleh banyaknya jumlah pasukan mereka. Ketika bertemu kaum muslimin terperangkap
di celah yang sempit dari lembah Hunain. Mereka diserang dengan panah shingga
mereka tercerai berai. Akhirnya mereka kembali dan berhasil mengalahkannya.
Dari pihak mush 70 orang terbunuh dan banyak dijadikan tawanan, sedangkan di
pihak muslimin 4 orang gugur sebagai syahid.
7. Perang
Tabuk
Perang
Tabuk terjadi pada tahun 9 H.
Heraklius bergabung dengan Bani Ghassan dan Bani Lachmedis menyusun pasuka
besar untuk menghadapi Islam. Mereka
berniat untuk menghancurkan kebudayaan dan peradaban Islam, seperti kemajuan
intelektualitas Islam dan ajaran Islam itu sendiri yang dinilai toleransi bagi
sebagian lapisan masyarakat.[21]
Untuk menghadapi pasukan
Heraklius, Nabi
juga menyusun pasukan dalam jumlah besar pula. Untuk keperluan itu, Nabi meminta bantuan
kepada sahabat-sahabatnya agar membantu pasukan Islam dengan perlengkapan yang
dibutuhkan.
Peristiwa
ini menunjukan kegotongroyongan dan pembelanjaan harta disaat masyarakat dalam
keadaan sulit. Usman membantu dengan 10.000 dinar dan 300 untasrta 50 ekor
kuda. Abu Bakar menyumbang 4000 dirham dan Umar bin Khattab menyumbang separuh
hartanya serta banyaklagi sahabat-sahabat yang lain. Nabi mampu mengerahkan
pasukan sebanyak 30.000 orang.
Tentara
Romawi dibawah pimpinan Heraklus tersebut akhirnya merasa minder dan menarik
diri kembali ke daerahnya masing-masing. Nabi tidak melakukan pengejaran tetapi
berkemah di daerah Tabuk. Di daerah ini,
Beliau mengadakan
perjanjian dengan penduduk setempat sehingga daerah tersebut menjadi daerah
Islam. Perang Tabuk merupkanerang terakhir yang diikuti oleh Rosulullah.[22]
G. Misi Dakwah
Nabi Muhammad Saw.
Muhammad saw. dilahirkan pada tanggal 9 atau 12 Rabi’ul
Awal (20 April tahun 571 M). Sebelum Beliau dilahirkan, ayahnya telah meninggal
dunia. Salah satu daru usaha Muhammad yang terpenting sebelum Beliau diutus
menjadi Rasul ialah berniaga ke Syam membawa barang-barang perniagaan Khadijah
binti Khuwailid, dengan ditemani oleh sahaya Khadijah yang bernama Maisarah.
Kekayaan Khadijah telah member kesempatan kepada
Muhammad untuk mencurahkan waktu dan perhatiannya kepada beribadah. Semenjak
Muhammad kawin dengan Khadijah, dia telah menjadi seorang yang berada. Muhammad
sering kali mengasingkan diri untuk berfikir tentang keadaan alam semesta. Maka
kekayaan yang telah didapatnya itu telah memberi kesempatan kepadanya untuk
lebih banyak mengasingkan diri dan berfikir.
Hal tersebut menggambarkan sosok Muhammad yang tidak
berlebih-lebihan dan tak berbangga diri terhadap harta yang dipunyainya. Beliau
senantiasa mempergunakan harta tersebut semata-mata hanya untuk beribadah
kepada Allah dan dalam rangka untuk semakin mendekatkan diri pada Tuhannya yang
telah mengaruniakan rezeki kepadanya.
Usianya yang bertambah lanjut menyebabkan dapat
berfikir lebih mendalam. Budi pekertinya yang luhur menjadikan jiwanya lebih
suci. Sementara itu, Tuhan pun telah menumpahkan inayat-Nya kepada Beliau, maka
menghujamlah pada jiwanya keinginan hendak mencurahkan perhatian dan waktu
segenapnya untuk mengasingkan diri demi Tuhannya. Istri Beliau pun memberikan
dukungan yang penuh terhadap keinginan Beliau ini.
Muhammad memang telah mendedikasikan hidupnya hanya
untuk Allah. Beliau senantiasa mempergunakan masa hidupnya dalam mensyukuri
nikmat dari Allah agar menjadi hamba yang semakin sadar akan keagungan dan
karunia dari Allah. Hal ini tercermin dalam penggunaan harta bendanya dengan
niat untuk beramal salih di jalan Allah. Beliau semakin beruntung karena
mendapat dukungan moral yang penuh dari istrinya terhadap sikapnya tersebut.
Setelah Muhammad diutus menjadi rasul, Beliau mendapat
perintah berupa suruhan agar menyeru kepada agama Allah, dan dengan demikianlah
mulailah fase-fase seruan kepada agama Allah itu. Berikut adalah beberapa
fase-fase seruan terhadap Nabi Muhammad saw:
1. Fase
Menyeru Seorang-seorang
Ini
adalah fase yang pertama dari fase-fase seruan itu.[23]
Pada fase ini, Rasulullah menyeru keluarga dan sahabat-sahabat Beliau yang
paling karib. Mereka diseur Beliau kepada pokok-pokok agama Islam yaitu percaya
kepada adanya Tuhan dan meninggalkan permujaan kepada berhala.
Dengan
kata lain, misi diutusnya Nabi Muhammad saw setelah menjadi rasul agar Beliau
meluruskan akidah umatnya dimulai dari yang terdekat terlebih dahulu dengan
menyeru kepada pokok-pokok agama Allah dengan menghilangkan sifat kejahiliyahan
umatnya yang menyembah kepada berhala. Kemudian, dalam fase ini terdapat
beberapa orang yang dapat menerima seruan Muhammad, yaitu isteri Beliau, Ali
putera paman Beliau, dan Zaid sahaya Beliau. Abu Bakar pun segera beriman
kepada Nabi mengingat hubungan Beliau dengan Nabi amatlah dekat.
Banyak
orang yang masuk Islam dengan perantaraan Abu Bakar. Mereka terkenal dengan
julukan “Assabiqunal Awwalun” (orang-orang yang lebih dahulu masuk Islam).
Mereka ialah: Usman ibnu ‘Affan, Zuber ibnul ‘Awwam, Sa’ad ibnu Abi Waqqash,
Abdur Rahman ibnu ‘Auf, Thalhah ibnu ‘Ubaidillah, Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah,
dan Al Arqam ibnu Abil Arqam. Di samping
itu, banyak pula hamba-hamba sahaya dan orang-orang miskin yang masuk Islam.
2. Fase
Menyeru Bani Abdul Mutthalib
Fase
ini dimulai oleh Rasulullah sesudah Tuhan menurunkan firman-Nya:
“Beri
ingatlah familimu yang dekat-dekat.” (Q.S. Asy-Syu’ara : 214)
Maka
Nabi menyeri Bani Abdul Mutthalib. Sesudah mereka berkumpul, berkatalah Nabi:
“Menurut yang saya ketahui, belum pernah
seorang pemuda membawa sesuatu untuk kaumnya yang lebih utama dari apa yang
saya bawa untuk kamu. Saya bawa untuk kamu segala kebaikan dunia dan akhirat.”[24]
Perkataan Nabi ini disambut dengan baik dan dibenarkan
oleh sebahagian mereka, tetapi sebahagian lagi mendustakannya. Abu Lahab paman
Nabi dan istri Abu Lahab sangat mendustakan perkataan Nabi tersebut.
Dalam fase ini, Rasulullah mulai menyeru dengan
terang-terangan kepada agama baru ini (Islam). Maka membentanglah jalan untuk
fase yang ketiga.
3. Fase
Seruan Umum
Pada
fase yang ketiga ini, Rasulullah mulai menyeru segenap lapisan manusia kepada
agama Islam dengan terang-terangan; baik golongan bangsawan maupun lapisan
hamba sahaya, begitu juga kaum kerabat Beliau sendiri atau orang-orang jauh.
Mula-mulanya Beliau menyeru penduduk Mekah, lalu penduduk negeri-negeri lain.
Di samping itu, Beliau juga menyeru orang-orang dari bermacam-macam negeri yang
berdatangan ke Mekah untuk mengerjakan haji.[25]
Diriwayatkan
oleh ahli sejarah bahwa di kala diturunkannya surat An-Nashr, sejumlah
pendengar surat ini menangis. Waktu ditanyakan: “Mengapa mereka menangis?”
Mereka menjawab: “Bahwa dengan turunnya surat ini, berarti bahwa saat wafatnya
Nabi dekatlah sudah.” Karena pertolongan Tuhan itu telah datang, kaum Muslimin pun
telah mendapat kemenangan yang gemilang dalam menaklukkan negeri Mekah. Manusia
telah datang berduyun-duyun untuk memasuki agama Allah. Sesudah itu, Nabi
Muhammad saw disuruh oleh Tuhan meminta ampun.
Dengan
penjelasan di atas, dapat diambil kesimpulan telah selesailah kewajiban
Muhammad dalam mengemban misi dan amanah Beliau dalam menjadi Rasulullah. Maka
oleh Tuhan, disuruhlah Beliau meminta ampun akan segala dosanya dan bersiap
untuk menemui Tuhannya.
H. Masa
Terakhir Nabi Muhammad Saw.
Pada
tahun 10 H, Nabi mengerjakan haji terakhir, yang dikenal dalam sejarah dengan
istilah “Hijjatul Wada”.[26]
Bersama Nabi ikut pula mengerjakan haji, kira-kira 100.000 orang Muslimin. Di
muka khalayak ramai ini, Nabi mengucapkan satu pidato yang mempunyai daya
abadi. Dalam pidato itu, Nabi menyatakan kepada kaum Muslimin yang hadir, bahwa
Beliau telah menyampaikan agama Islam dengan sempurna.
Kira-kira
tiga bulan sesudah mengerjakan Hijjatul Wada itu, Nabi menderita demam. Amat
berat penyakit yang dialami Beliau, sehingga tiada kuasa Beliau keluar untuk
mengimami kaum Muslimin bersembahyang,
maka disuruhlah Abu Bakar menggantikan Beliau menjadi imam. Ketika itu, Beliau
merasakan kecemasan yang dirasakan oleh umatnya terhadapnya karena penyakit
tersebut. Beliau juga telah merasa bahwa tiada lama lagi Beliau akan menemui
Tuhannya.
Pada
suatu hari, karena mengetahui bahwa kaum Muslimin berkerumun di masjid, berduka
cita atas penyakit Beliau, maka dengan ditemani oleh Abbas paman Beliau dan Ali
ibnu Abi Thalib, Beliau keluar menemui mereka. Beliau seketika itu pula
memberikan pidato kepada kaum Muslimin. Kemudian, Beliau memercayakan Anshar
kepada Muhajirin dan sebaliknya memercayakan Muhajirin kepada Anshar.
Tak
selang beberapa hari setelah itu, dalam usia 63 tahun berpulanglah Beliau ke
rahmatullah, yaitu pada hari Senin tanggal 13 Rabiul Awwal tahun 11 H.
Peristiwa
wafat Nabi ini amat besar kesan
dan pengaruhnya kepada kaum Muslimin. Kendatipun mereka baru saja menerima
fatwa-fatwa dari Nabi, tetapi pahlawan-pahlawan ulung yang pemberani itu pun
panik juga. Banyak di antara mereka yang tidak memercayai berita wafatnya Nabi
yang datang dengan tiba-tiba ini.
Peristiwa
wafatnya Nabi ini sampai kepada Abu Bakar. Maka dengan segera Beliau datang
menjenguk dan terus masuk ke kamar Rasulullah. Di sana, dilihatnya Rasulullah
sedang dibujur, maka dibukanyalah kain yang menutupi muka Rasulullah lalu
diciuminya seraya berkata: “Alangkah baiknya Engkau di waktu hidup dan di waktu
mati. Jika seandainya Engkau tiada melarang kami menangis, akan kami curahkan
air mata ini.
Nabi
pun disembahyangkan. Berduyun-duyun manusia menyembahyangkan Beliau. Kemudian,
Beliau dimakamkan di tempat Beliau wafat. Nabi Muhammad telah wafat, tetapi
ajarannya kekal dan abadi serta senantiasa mengirimkan sinar cahayanya ke
seluruh tempat untuk memberi
petunjuk kepada orang-orang yang sesat.[27]
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Sejarah merupakan kondisi ataupun segala
peristiwa yang telah terjadi di masa lampau. Peradaban sendiri merupakan
keseluruhan kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan juga teknik. Berkaitan dengan istilah Sejarah Peradaban
Islam, dapat diartikan sebagai sejarah atau segala sesuatu di masa lampau yang
berkaitan dengan kehidupan di berbagai bidang yang terjadi pada agama Islam
masyarakat Islam pada masa itu.
Keadaan Dunia
sebelum datangnya Islam atau Pra-Islam mengalami keadaan Jahiliyah penduduknya
dan belum adanya pembentukan peradaban manusia yang cerah. Kemudian, muncul dan
diutusnya Rasulullah saw. Akhirnya mengubah kondisi peradaban dunia dimana
ketika itu peradaban Islam mengalami progresivitas yang luar biasa oleh upaya
dakwah Rasulullah Saw.
Peradaban Islam
pada zaman dahulu mengalami gejolak yang dinamis, di mana Nabi Muhammad Saw.
disaat hendak melakukan misi dakwahnya selalu mengalami hambatan dimana-mana,
dimulai dari dakwah secara sembunyi-sembunyi hingga secara terang-terangan.
B. Saran-saran/Rekomendasi
Dengan
memahami dan menghayati perjuangan Rasulullah Saw. beserta sahabatnya dan tokoh
Islam lainnya dalam kondisi peradaban Islam di masa lampau,
diharapkan mahasiswa atau penulis makalah dapat meneladani nilai-nilai moral dan perjuangan
Beliau dengan baik. Setidaknya, dengan memahami makna perjuangan mereka, mahasiswa
dapat mengapresiasi dan menjunjung tinggi nilai historis
Islam itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Fu’adi,
Imam. 2011. Sejarah Peradaban Islam. Sleman: Teras.
Fu’adi, Imam. 2012. Sejarah Peradaban Islam:
Dirasah Islamiyah II. Sleman: Teras.
Quthb,
Muhammad. 1992. Perlukah Menulis Ulang
Sejarah Islam?. Jakarta: GEMA INSANI PRESS.
Khoiriyah.
2012. Reorientasi Wawasan Sejarah Islam: Dari
Arab sebelum Islam hingga Dinasti-dinasti Islam. Sleman: Teras.
In’am
Ersha, Muhammad. 2011. Percikan Filsafat Sejarah & Peradaban Islam. Malang:
UIN-Maliki Press.
Syalabi,
A. 2003. Sejarah dan Kebudayaan Islam I.
Jakarta: PT Pustaka Al Husna Baru.
Jurnal
Ilmiah dengan Judul: Romawi dalam Magico Historia, yang ditulis oleh Dra. Hj.
Yunani Hasan, M.Pd.
[1] Muhammad
In’am Ersha, Percikan Filsafat SPI, Cet. I (Malang: Uin Maliki Press,
2011), hlm. 41
[2] Jurnal
Karya Yunani Hasan dengan judul “Romawi dalam Magico Historia”.
[3] A.
Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam I, Cet. VI (Jakarta: PT Pustaka Al
Husna Baru, 2003), hlm. 206
[4] Ibid., hlm. 207
[5] Ibid.,
[6] Ibid., hlm. 208
[7] Khoiriyah,
Reorientasi Wawasan Sejarah Islam, Cet. I (Sleman: Teras, 2012), hlm. 17
[8] Muhammad
Quthb, Perlukah Menulis Ulang Sejarah Islam?, Cet. I (Jakarta: Gema
Insani Press, 1992), hlm. 55
[10] Ibid., hlm. 13-14
[11] Ibid., hlm. 20
[12] Ibid.,
[13] Imam
Fu’adi, Sejarah Peradaban Islam, Cet. I (Sleman: Teras, 2011), hlm. 13
[14] Ibid., hlm. 1-2
[15] Ibid., hlm. 13-14
[16] Ibid.,
hlm. 14
[17] Ibid., hlm. 16
[18] Op. Cit., hlm. 40-41
[19] Ibid., hlm. 42
[20] Ibid.,
hlm. 44
[21] Imam
Fu’adi, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, Cet. I (Sleman: Teras,
2012), hlm. 123
[22] Ibid., hlm. 47
[23] A.
Syabali, hlm. 75
[24] Ibid., hlm. 76
[25] Ibid., hlm. 77
[26] Ibid., hlm.189
[27] Ibid., hlm. 191
Keren..sangat bermanfaat blognya..terimakasihh
BalasHapus