PERSAMAAN DAN PERTIDAKSAMAAN LINEAR
Makalah
Mata Kuliah : Konse Dasar Matematika
Dosen Pengampu : Alimatus Solikhah, M. Pd.
Dibuat guna memenuhi tugas Mata Kuliah Konsep
Dasar Matematika

Oleh Kelompok 5:
1. Muhammad Chotibul Umam
2. Urifatul Minna
3. Umi Kulsum
4. Nazilaturrohmah
5. Dian Sugiyati
6. Usnul Khotimah
KELAS C
PROGRAM STUDI PGMI
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PEKALONGAN
|
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah,
puji syukur kehadirat Allah swt. atas
izin-Nya makalah yang berjudul “Konsep Dasar Kurikulum dalam Pendidikan” ini
dapat diselesaikan. Salawat
dan salam semoga tercurah kepada baginda Nabi Muhammad saw., sahabatnya, keluarganya, dan umatnya hingga akhir zaman.
Makalah ini dibuat guna memenuhi tugas Mata Kuliah Kajian Kurikulum di lingkungan IAIN Pekalongan. Makalah ini
menjelaskan tentang Konsep Dasar Kurikulum di dalam pendidikan yang
meliputi definisi atau pengertian, peran, dan fungsi kurikulum dalam pendidikan. Hal ini dimaksudkan untuk membekali
mahasiswa FTIK agar memiliki pemahaman tentang apa itu kurikulum dan
fungsinya serta peranannya sekaligus
membangun mental mahasiswa FTIK sebagai seorang calon guru MI/SD agar mampu mengaplikasikan
penggunaan kurikulum kelak kita sebagai calon guru MI/SD.
Penulis sudah berusaha untuk
menyusun makalah ini selengkap mungkin. Penulis juga mengucapkan terima kasih
kepada Dosen Pengampu Mata Kuliah, Bapak Rahmat Kamal, yang telah memberi
amanah kepada penulis untuk mengisi materi penulisan makalah ini. Penulis juga
menerima saran dan kritik dari pembaca guna penyempurnaan penulisan makalah
mendatang.
Akhirnya, makalah ini diharapkan bisa bermanfaat dan membantu
mahasiswa FTIK dalam rangka memahami
Mata Kuliah Kajian Kurikulum
di semester tiga ini. Amin
yaa rabbal ‘alamin. Selamat
membaca!
Pekalongan,
13 September 2017
Penulis
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar .............................................................................................. ii
Daftar
Isi ...................................................................................................... iii
BAB
I PENDAHULUAN ....................................................................... ….4
A. Latar Belakang Masalah ........................................................ 4
B. Rumusan Masalah .................................................................. 5
C. Sistematika Kerangka Makalah ............................................. 5
BAB II PEMBAHASAN
............................................................................. 6
A.
Definisi Kurikulum ................................................................ 6
B.
Peran
Kurikulum .................................................................... 8........
C.
Fungsi
Kurikulum ................................................................ 10
BAB
III PENUTUP..................................................................................... 17........
A. Simpulan............................................................................... 17
B. Saran-saran/Rekomendasi..................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 18........
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Kurikulum merupakan hal terpenting dalam
proses pendidikan. Tanpa kurikulum suatu proses pendidikan tidak akan mempunyai
arah dan tujuan serta orientasi pendidikan tersebut. Kurikulum merupakan
perangkat dan pedoman pembelajaran yang digunakan oleh lembaga pendidikan,
dapat berupa negara (pemerintah), guru, dan yang lainnya dalam rangka mencapai
tujuan pendidikan yang diharapkan pada peserta didik.
Pendidikan
menjadi wahana bagi peningkatan mutu atau kualitas generasi bagi suatu bangsa.
Pendidikan tidak begitu saja terlaksana hanya dengan kegiatan belajar-mengajar
antara guru dengan murid yang tanpa dilandasi dengan kurikulum. Di sini
kurikulum menjadi sebuah alat penentu keberhasilan suatu pendidikan agar meraih
tujuan pendidikan yang diharapkan..
Dari banyak pengalaman, masih
banyak guru di Indonesia yang masih belum mengaplikasikan kurikulum dengan
baik. Apalagi akhir-akhir ini masih heboh dengan pelaksanaan kurikum 2013 yang
belum maksimal dan sesuai harapan. Banyak yang merasa tidak bisa menyesuaikan
antara keadaan realita murid dengan tuntutan pembelajaran kurikulum 2013.
Misalnya dalam kurikulum 2013 diharapkan peserta didik untuk mandiri dalam
mencari materi pembelajaran di berbagai media seperti internet. Dengan tuntutan
seperti itu, tentu akan dirasakan berbeda bagi murid di pelosok desa dibanding
di kota-kota besar yang memiliki teknologi yang lebih maju.
Oleh karena itu, Penulis mengambil judul
makalah seperti yang telah tertulis di atas mengingat arti pentingnya pemahaman
tentang kurikulum dan seluk-beluk yang ada pada kurikulum yang patut untuk kita
kaji bersama.
Makalah ini menyajikan materi yang dimulai
dari Definisi, Peran, dan Fungsi Kurikulum di dalam pendidikan..
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, rumusan
masalahnya adalah sebagai berikut.
1.
Apa yang dimaksud dengan Kurikulum?
2.
Apa saja peran kurikulum dalam pendidikan?
3.
Bagaimana fungsi
kurikulm dalam pendidikan?
D. Sistematika Kerangka Makalah
Makalah ini ditulis dalam 3 bagian, meliputi:
Bab I, bagian pendahuluan yang terdiri
dari: latar belakang masalah, perumusan masalah,
dan sistematika kerangka makalah;
Bab
II, bagian pembahasan;
Bab III, bagian penutup yang terdiri dari
simpulan dan saran-saran/rekomendasi.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
SISTEM
PERSAMAAN LINEAR
-
PERSAMAAN
LINEAR SATU VARIABEL
A.
Pengertian
Persamaan Linear Satu Variabel
Persamaan
linear satu variabel adalah persamaan linear yang memiliki satu
variabel, dengan pangkat variabel adalah satu. Persamaan Linear Sua Variabel
memiliki bentuk umum :
ax
= b
Dengan
a dan badalah konstanta, x adalah variabel.
Contoh
persamaan :
2
+ 3 = 5
2
x 3 = 6
Sekarang
perhatikan persamaan berikut:
(1)
2x +
3 = 9
(2)
4 -
5x = 14
(3)
+ 5x = 14
Persamaan (1) dan (2) masih satu jenis, sedangkan persamaan (3)
jenis yang lain. Pada persamaan (1) dan (2) pangkat tertinggi pada variabel x
adalah 1, sedangkan pada persamaan (3) pangkat tertinggi pada variabel x adalah
2. Persamaan (1) dan (2) dinamakan persamaan linier, sedangkan persamaan (3)
persamaan bukan linier.
Persamaan linier mempunyai bentuk umum.
Pada persamaan (1) diatas bentuknya dapat disajikan seperti bentuk
umum, yaitu dengan cara sebagai berikut:
2x + 3 = 9 ekuivalen
dengan
2x + 3 – 9 = 9 – 9
ekuivalen dengan
2x – 6 = 0
Bentuk terakhir ini sama dengan bentuk umum, di mana A = 2 dan B=
-6.
Pada persamaan (2) di atas bentuknya dapat disajikan seperti bentuk
umum juga, yaitu dengan cara sebagai berikut:
4 - 5x = 14 ekuivalen dengan
4 - 5x - 14 = 14 – 14 ekuivalen dengan
4 – 14 – 5x = 0
ekuivalen dengan
-10 – 5x = 0
ekuivalen dengan
-5x – 10 = 0
ekuivalen dengan
Bentuk terakhir ini sama dengan bentuk umum, di mana A = -5 dan B =
-10.
Menyelesaikan suatu persamaan berarti
mencari suatu bilangan yang apabila disubstitusikan ke variabel pada persamaan
itu, persamaan itu berubah menjadi kalimat tertutup yang mempunyai nilai
kebenaran “benar”. Banyak cara mencari bilangan yang cocok itu, mulai dari
mencoba-coba sampai dengan mengikuti algoritma dan memanfaatkan sifat-sifat
operasi aljabar. Salah satu cara menentukan penyelesaian suatu persamaan akan
ditunjukkan melalui contoh soal berikut.
Tentukan himpunan penyelesaian (hp)
dari masalah-masalah berikut:
1.
2x +
9 = 37
2.
5 –
3x = 38
3.
3(x
– 2 ) + 2(x + 1 ) = 4x + 1
4.
Jumlah
dua bilangan berurutan adalah 25, tentukanlah bilangan tersebut!
Jawab:
1.
2x + 9 = 37
2x + 9 – 9 = 37 – 9
2x =
28
x
= 
x =
14
Hp =
{14}
Jika hasil ini ( x = 14
) kita substitusikan ke persamaan 2x + 9 = 37 maka diperoleh persamaan 2 . 14 +
9 = 28 + 9 = 37.
2.
5 –
3x = 38
5 –
3x – 5 = 38 – 5
-3x
= 33
x = 
X =
-11
Hp =
{-11}
Jika hasil ini ( x= -11 ) kita subtitusikan ke persamaan 5 – 3x =
38 maka diperoleh persamaan 5 – (3 . (-11)) = 5 – (-33) = 38.
3.
3 (x
– 2 ) + 2(x + 1 ) = 4x + 1
3x –
6 + 2x + 2 = 4x + 1
5x –
4 = 4x + 1
5x –
4x = 1 + 4
x =
5
Hp =
{5}
Jika
hasil ini (x = 5 ) kita substitusikan ke persamaan.
3 (x
– 2 ) + 2(x + 1 ) = 4x + 1 maka diperoleh persamaan
3 (5
– 2) + 2 (5 + 1) = 4 (5) + 1
4.
Misalkan
bilangan pertama adalah n. Jadi bilangan ke dua adalah ( n + 1 )
n +
( n + 1 ) = 25
( n
+ n ) + 1 = 25
2n +
1 = 25
2n =
24
n =
12
Dengan
demikian bilangan–bilangan itu adalah 12 dan 13.
Hp =
{ 12, 13 }[2].
-
SISTEM
PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL
A.
Pengertian Persamaan
Linear Dua variabel
Persamaan linear dua
variabel adalah persamaan linear yang memiliki dua variabel, dengan
pangkat masing-masing variabel adalah satu. Persamaan Linear Dua Variabel
memiliki bentuk umum :
ax + by = c
Dengan a, b, dan c
adalah konstanta, x dan y adalah variabel
contoh :
a. x – y =0
b. 2m + n =4
Misalkan akan dicari penyelesaian
dari 2m+n=4.
- Bila m = 0, maka 0 + n = 4 Penyelesaiannya adalah (0,4)
- Bila m = 1, maka 2.1 + n = 4, sehingga n=2, Penyelesaiannya adalah (1,4).
- Bila m = 2, maka 2.2 + n =4, sehingga n=0, Penyelesaiannya adalah (2,0).
Demikian untuk
seterusnya.[3]
B. Sistem Persamaan Linear Dua Variabel
Sistem Persamaan Linear
Dua Variabel adalah dua buah persamaan linear dua variabel yang
mempunyai satu penyelesaian.
Bentuk umumnya seperti
berikut :
a1x + b1y
= c1
a2x +
b2y = c2
Dengan a1, b1,
a2, b2 adalah koefisien serta x dan y adalah variabel.
Contoh :
x – y =4 … (i)
x + y =6 … (ii)
Persamaan (i) dan (ii)
disebut sistem persamaan linear dua variabel karena kedua persamaan tersebut
memiliki satu penyelesaian yaitu (5,1)
C. Penyelesaian Sistem persamaan Linear Dua Variabel
Sistem persamaan linear
dua variabel dapat diselesaikan dengan :
a.
Metode substitusi
Bila menggunakan metode subtitusi kita dapat menggantikan
suatu variabel dengan variabel dari persamaan lain.
Contoh :
2x – y = 6 ……..(i)
x + y = 3 ……..(ii)
Contoh :
2x – y = 6 ……..(i)
x + y = 3 ……..(ii)
Langkah awal
Ubahlah salah satu persamaan dalam bentuk X = …. Atau y = ….
Dari persamaan (i), kita dapat memperoleh : 2x – 6 = y
Ubahlah salah satu persamaan dalam bentuk X = …. Atau y = ….
Dari persamaan (i), kita dapat memperoleh : 2x – 6 = y
Langkah kedua
Subtitusikan persamaan diatas ke perssamaan (ii) sehingga diperoleh :
x + (2x – 6) = 3
3x – 6 = 3
3x = 9
x = 3
Subtitusikan persamaan diatas ke perssamaan (ii) sehingga diperoleh :
x + (2x – 6) = 3
3x – 6 = 3
3x = 9
x = 3
Langkah Ketiga
Nilai x = 3 disubtansikan ke persamaan (i) atau ke persamaan (ii).
Misalkan x = 3 disubtansikan ke persamaan (i), diperoleh :
2.3 – y =6
6 – y = 6
y = 6-6
y = 0
Nilai x = 3 disubtansikan ke persamaan (i) atau ke persamaan (ii).
Misalkan x = 3 disubtansikan ke persamaan (i), diperoleh :
2.3 – y =6
6 – y = 6
y = 6-6
y = 0
b.
Metode eliminasi
Metode eliminasi dilakukan dengan cara menghilangkan
salah satu variabel. Contoh diatas dapat diselesaikan menggunakan metode
eliminasi berikut.
Contoh :
2x – y = 6 …. (i)
x + y = 3 …. (ii)
Langkah awal
mulailah dengan menghilangkan variabel x
2x – y = 6 | x 1 |2x – y = 6
x + y = 3 |x 2 | 2x + 2y = 6
mulailah dengan menghilangkan variabel x
2x – y = 6 | x 1 |2x – y = 6
x + y = 3 |x 2 | 2x + 2y = 6
-3 y = 0
y = 0
y = 0
Langkah Kedua
hilangkan variabel y
2 x – y = 6
x + y = 3
3x = 9
x = 3
Jadi, penyelesaiannya adalah x = 3 dan y = 0, ditulis HP = {(3,0)}
hilangkan variabel y
2 x – y = 6
x + y = 3
3x = 9
x = 3
Jadi, penyelesaiannya adalah x = 3 dan y = 0, ditulis HP = {(3,0)}
c.
Metode Grafik
Dengan metode grafik, kita harus menggambar grafik dari
kedua persamaan, kemudian titik potong kedua grafik tersebut merupakan
penyelesaian dari sistem persamaan linear dua variabel.
Contoh :
2x – y = 6
x + y = 3
Contoh :
2x – y = 6
x + y = 3
Langkah awal
gambarlah grafik persamaan 2x – y = 6.
kita harus menentukan terlebih dahulu titik potong grafik terhadap sumbu X dan sumbu Y.
1) titik potong terhadap sumbu X, maka y= 0
2x – y = 6
2x – 0 = 6
2x = 6
x = 3
gambarlah grafik persamaan 2x – y = 6.
kita harus menentukan terlebih dahulu titik potong grafik terhadap sumbu X dan sumbu Y.
1) titik potong terhadap sumbu X, maka y= 0
2x – y = 6
2x – 0 = 6
2x = 6
x = 3
2) titik potong
terhadap sumbu Y, maka x = 0.
x + y = 3
0 + y = 3
y = 3
titik potong terhadap Y adalah (0,3).
x + y = 3
0 + y = 3
y = 3
titik potong terhadap Y adalah (0,3).
d.
Metode campuran dari metode eliminasi dan substitusi
Cara menyelesaikan sistem persamaan linear dua variabel
dapat dilakukan dengan metode campuran dari eliminasi dan subtitusi.
Contoh :
2x – y = 3 ….. (i)
x + y = 3 ….. (ii)
Langkah awal : metode eliminasi
hilangkan variabel x
2x – y = 6 |x 1 |2x – y = 6
x + y = 3 |x 2 | 2x + 2y = 6
-3y = 0
y = 0
hilangkan variabel x
2x – y = 6 |x 1 |2x – y = 6
x + y = 3 |x 2 | 2x + 2y = 6
-3y = 0
y = 0
Langkah kedua : metode subtitusi
masukkan nilai y = 0 ke persamaan (i) atau ke persamaan ke (ii), misalkan nilai y = 0 dimasukkan ke persamaan (i).
2x – 0 = 6
2x = 6
x = 3
jadi, penyelesaian sistem persamaan linear dua variabel diatas adlah x = 3 dan y = 0, dituliskan HP = {(3,0)}
masukkan nilai y = 0 ke persamaan (i) atau ke persamaan ke (ii), misalkan nilai y = 0 dimasukkan ke persamaan (i).
2x – 0 = 6
2x = 6
x = 3
jadi, penyelesaian sistem persamaan linear dua variabel diatas adlah x = 3 dan y = 0, dituliskan HP = {(3,0)}
D. Penggunaan Sistem
Persamaan Linear Dua Variabel
Penggunaan sistem persamaan linear satu variabel juga
dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Contoh :
I. Harga 4 buah buku tulis dan 3 buah pensil adalah Rp. 25. 000,00. harga 2 buah buku tulis dan 7 buah pensil adalah Rp. 29.000,00. berapakah harga 2 lusin buku tulis dan 4 lusin pensil ?
I. Harga 4 buah buku tulis dan 3 buah pensil adalah Rp. 25. 000,00. harga 2 buah buku tulis dan 7 buah pensil adalah Rp. 29.000,00. berapakah harga 2 lusin buku tulis dan 4 lusin pensil ?
Jawab:
Misalkan, harga sebuah buku tulis dilambangkan x dan harga sebuah pensil dilambangkan y.
Dengan demikan diperoleh :
4x + 3y = Rp25.000,00 …. (i)
2x + 7y = Rp 29.000,00 …. (ii)
Misalkan, harga sebuah buku tulis dilambangkan x dan harga sebuah pensil dilambangkan y.
Dengan demikan diperoleh :
4x + 3y = Rp25.000,00 …. (i)
2x + 7y = Rp 29.000,00 …. (ii)
Misalkan sistem
persamaan linear dua variabel diatas akan diselesaikan dengan metode eliminasi.
Langkah awal
Hilangkan variabel x
4x + 3y = 25.000|x 1|4x + 3y = 25.000
2x + 7 y = 29.000|x 2|4x+14y = 58.000
-11 y = – 33.000
Hilangkan variabel x
4x + 3y = 25.000|x 1|4x + 3y = 25.000
2x + 7 y = 29.000|x 2|4x+14y = 58.000
-11 y = – 33.000
y = 3. 000
Langkah kedua
kita dapat menggunakan metode substitusi.
Masukkan nilai y = 3. 000 ke salah satu persamaan. Misalkan (i), diperoleh :
4x + 3.3000 = 25.000
4x = 25.000 – 9.000
x = 4.000
kita dapat menggunakan metode substitusi.
Masukkan nilai y = 3. 000 ke salah satu persamaan. Misalkan (i), diperoleh :
4x + 3.3000 = 25.000
4x = 25.000 – 9.000
x = 4.000
Dengan demikian,
diperoleh bahwa harga sebuah buku tulis adalah Rp4.000,00 dan harga sebuah
pensil adalah Rp3.000,00. harga 2 lusin buku tulis dan 4 lusin pensil adalah :
= 2. 12.Rp4.000,00 + 4.12.Rp3.000,00
= 24. Rp4.000,00 + 48.Rp3.000,00
= Rp96.000,00 + Rp144.000,00
=Rp240.000,00
Jadi harga 2 lusin buku tulis dan 4 lusin pensil adalah Rp240.000,00
= 2. 12.Rp4.000,00 + 4.12.Rp3.000,00
= 24. Rp4.000,00 + 48.Rp3.000,00
= Rp96.000,00 + Rp144.000,00
=Rp240.000,00
Jadi harga 2 lusin buku tulis dan 4 lusin pensil adalah Rp240.000,00
II. Umur
Melly 7 tahun lebih muda dari umur Ayu. Jumlah umur mereka adalah 43 tahun. Tentukan
umur mereka masing masing!
Jawab:
Misalkan umur Melly = x dan umur Ayu = y, maka
y – x = 7 ... (1) à y = 7 + x
y + x = 43 ..(2)
maka:
y + x = 43
ßà 7 + x + x = 43
ßà 7 + 2 x = 43
ßà 2x = 36
ßà x = 18
Sehingga y = 7 + 18 = 25
Jadi umur Melly adalah 18 tahun dan umur Ayu 25 tahun.
III. Sebuah tanaman memiliki ukuran panjang 8
meter lebih panjang dari lebarnya. Keliling taman tersebut adalah 44m, tentukan luas taman!!
Diket : luas taman = p x l
P=panjang taman
L=lebar taman
Maka:
P=8+1
K=2p+21
2(8+1)+21=44
16+21+21+44
16+41=44
41=28
1=7
P=7+8=15
Luas =7x15=105 m2
Jadi luas taman tersebut 105 m2.
B. SISTEM PERTIDAKSAMAAN LINEAR
-
PERTIDAKSAMAAN
LINEAR SATU VARIABEL
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kalimat yang menunjuk kepada ketidaksamaan
atau pertidaksamaan, seperti :
1.
Amin
lebih pendek dari pada Budi
2.
Aji
mempunyai uang lebih banyak dari pada Noni
3.
Sisa
uang tabungan saya paling sedikit Rp 2.000.000,00
4.
Badru
dikasih uang jajan oleh ibunya paling banyak Rp 5.000,00 setiap harinya.
Contoh-contoh tersebut adalah
kalimat yang bila dinotasikan dalam kalimat matematika yang dapat dikatakan
sebagai pertidaksamaan. Contoh (1) dapat dinotasikan A < B, contoh (2) A > N, contoh (3) sisa
tabungan ≥ Rp 2.000.000,00, dan contoh (4) Uang jajan Badru ≤ Rp 5.000,00.
Notasi
“<” dapat dibaca lebih kecil (dari pada) / lebih sedikit (dari pada) / lebih
pendek ( dari pada), notasi
“>” dapat dibaca lebih besar (dari pada) / lebih bnyak (dari pada)/ lebih
panjang (dari pada ), notasi“≥”
dapat dibaca lebih besar atau sama dengan /lebih banyak sama dengan/ lebih
panjang atau sama dengan/ paling kecil/ paling sedikit/paling pendek, sedangkan
notasi “≤” dapat dibaca lebih kecil atau sama dengan /lebih pendek atau sama
dengan/paling besar/ paling panjang.
Untuk menggambar notasi pertidaksaan
tersebut dapat dibuat garis bilangan dalam istilah “selang terbuka atau selang
tertutup”, selang terbuka menunjuk pada lebih kecil/ lebih besar (< atau
>) dan selang tertutup menunjuk kepada “lebih besar atau sama dengan /lebih
kecil atau sama dengan (≥ atau ≤).
Contoh 1
Buat garis bilangan yang dinyatakan
pada kalimat berikut ini :
a.
Bilangan
ganjil kurang dari 9
b.
Bilangan
genap paling besar 10
c.
{x |
1 < x < 5, x anggota bilangan bulat }
d.
{ x
| 0 ≤ x≤ 6}
Penyelesaian pertidaksamaan pada
dasarnya sama dengan penyelesaian persamaan yaitu menggunakan prinsip
penjumlahan dan perkalian, hanya saja jika kedua ruas dikalikan dengan bilangan
negative yang sama, tanda harus diubah dari < atau ≤ menjadi > atau ≥,
dan sebaliknya dari > atau ≥ menjadi < atau ≤ .
Contoh 2
Tentukan
himpunan penyelesaian (hp) dari pertidaksamaan
2x + 3
< 9
Jawab :
2x + 3
< 9
2x + 3 –
3 < 9 – 3
2x <
6
X< 3
Seperti
halnya dalam persamaan, dalam pertidaksamaan kita juga mempunyai sistem
pertidaksamaan linier. Sistem pertidaksamaan yang dibahas pada bagia ini adalah
sistem pertidaksamaan linier satu variabel.
Untuk
menyelesaikan sistem pertidaksamaan linier satu variabel kita dapat menggunakan
irisan penyelesaian pertidaksamaan-pertidaksamaannya.
Contoh
Tentukan
himpunan penyelesaian sistem pertidaksamaan berikut ini.
-2x + 4
≤ - x + 3
2x – 3
< x-1
Jawab:
-2x + 4
≤ -x + 3 dan 2x -3 < x -1
-2x + x
≤ 3 – 4 2x
– x < 3 -1
-x ≤ - 1 x
< 2
x > 1
Hp = {x
| 1 < x < 2}. [5]
Contoh Soal Pertidaksamaan Linear SatuVariabel
1, Tentukanpenyelesaiandaripertidaksamaaan 2x +
5 < 6
Jawab :
2x + 5 < 6
2x < 6- 5
2x < 1
x< 1/2
jadi penyelesaiannya adalah x < 1/2
2. Tentukan penyelesaian dari pertidaksamaaan
5x – 10 > 7
Jawab :
5x – 10 > 5
5x > 5 + 10
5x > 15
x > 15/5
x > 3
jadi penyelesaiannya adalah x > 3
3. Tentukan penyelesaiandaripertidaksamaaan 9 –
4x < 45 !
Jawab :
9 – 4x < 45
-4x < 45 – 9
x> 36/-4 ( tandapertidaksamaanberubahkarenadibagidenganbilangannegatif)
x > - 9
jadipenyelesaiannyaadalah x > - 9
4.
Tentukanpenyelesaiandaripertidaksamaan
x + 5 < 2x -4
Jawab :
x + 5 < 2x -4
x- 2x < -4 -5
-x < -9
x> 9 (tandapertidaksamaanberubah)
jadipenyelesaiannyaadalah x > 9
5.
Tentukanpenyelesaiandari
12 – 5a ≥ 3a
Jawab :
12 – 5a ≥ 3a
– 5a - 3a ≥ -12
– 8a ≥ -12
a ≤ -3/2
jadipenyelesaiannyaadalah a ≤ -3/2
-
SISTEM PERTIDAKSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL
a.
Definisi
Sistem
pertidaksamaan dua variabel adalah sistem pertidaksamaan yang terdiri dari dua
atau lebih pertidaksamaan linier serta mempunyai dua variabel
ax+by+c (<,>,≤, ≥)0
px+qy+r (<,>,≤,≥)0
Dua
sistem pertidaksamaan linier adalah
Pertidaksamaan
linier I ax+by+c(< ,>, ≤, ≥ )0
Pertidaksamaan linier II px+qy+r(<, >, ≤, ≥)0
Kedua
variablenya adalah x dan y
Tanda
pertidaksamaan bisa salah satu dari
>artinya
lebih besar dari
≥artinya
lebih besar dari atau sama dengan
<artinya
lebih kecil dari
≤artinya
lebih kecil dari
b.
Himpunan Peyelesaian Pertidaksamaan Linier Dua
Variabel
Himpunan
penyelesiaan pertidaksamaan linier adalah daerah yang merupakan kumpulan
pasangan titik atau koordinat
(x , y) yang memenuhi pertidaksamaan linier tersebut.
Untuk menggambarkan penyelesaian sistem pertidaksamaan linier pada sistem
koordinat Cartesius perlu di ketahui persamaan garis yang memisahkan daerah
penyelesaian dan daerah bukan penyelesaian
Tanda
< atau > digambarkan sebagai garis putus putus
Tanda ≤
atau ≥ digambarkan sebagai garis penuh
Untuk
mengetahui daerah yang merupakan himpunan penyelesaiannya gunakan langkah
berikut
(1)
Gambar persamaan garisnya
(2) Jika
titik (0,0)tidak dilalui garis ambil titik (0,0) sebagai titik uji. Jika titik
(0,0) dilalui garis ambil titik sembarang pada sumbu X (x,0) atau
titik sembarang pada sumbu Y (0,y) sebagai titik uji
(3)
Masukkan nilai (x,y) dari titik uji ke pertidaksamaan,
Jika
pertidaksamaan bernilai benar maka daerah dimana titik uji terletak adalah
himpunan penyelesaiannya sedang daerah lain adalah bukan himpunan penyelesaiannya.
Sebaliknya
jika pertidaksamaan salah maka daerah dimana titik uji terletak bukan merupakan
himpunan penyelesaiaannya sedang daerah lain adalah menjadi daerah himpunan
penyelesaiannya.
Contoh :
1.
Tentukan HP dari 2x + 3y ≤ 6
x, y € {bilangan real}
Jawab:
a)
Gambar grafik 2x + 3y =
|
2x + 3y = 6
|
||
|
x
|
0
|
3
|
|
y
|
2
|
0
|
0
3
Daerah
yang tidak diarsir merupakan daerah penyelesaian (DP)
b)
Menentukan daerah penyelesaian:
(1)
Ambil suatu titik, misal O (0,0)
(2)
Substitusi O (0,0), ke pertidaksaaman maka:
2x +
3y ≤ 6
2. Seorang tukang las membuat dua jenis pagar.
Tiap meter persegi jenis 1 memerlukan 4 meter besi pipa dan 6 meter besi beton.
Sedangkan pagar jenis 2 memerlukan 8 meter pipa dan 4 meter besi beton. Tukang
las tersebut mempunyai persediaan 640 meter besi pipa dan 480 meter besi beton.
Harga jual permeter persegi pagar jenis 1 adalah Rp.50.000 dan harga jual
permeter persegi jenis 2 adalah Rp.75.000. Buatlah model matematikaanya !
|
|
Besi Pipa
|
Besi Beton
|
Harga
|
|
Pagar jenis 1 (x)
|
4 meter
|
6 meter
|
Rp.50.000
|
|
Pagar jenis 2 (y)
|
8 meter
|
4 meter
|
Rp.75.000
|
|
Persediaan
|
640 meter
|
480 meter
|
|
Permodelannya
1)
4x + 8y
≤ 640 dibagi 4
x + 2y
≤ 160
2)
6x + 4y
≤ 480 dibagi 2
3x + 2y
≤ 240
3)
x ≥ 0
4)
y ≥ 0
3.
Tentukan daerah penyelesaian dari pertidaksamaan
x + y ≤ 10.
Jawaban:
Langkah pertama kita membuat persamaan x + y = 10 (persamaan garis lurus)
Membuat dua titik bantu.
Untuk x = 0, maka y = 10. Diperoleh titik (0, 10)
Untuk y = 0, maka x = 10. Diperoleh titik (10, 0)
Selanjutnya digambar garis sesuai pertidaksamaan x + y ≤ 10.
Jawaban:
Langkah pertama kita membuat persamaan x + y = 10 (persamaan garis lurus)
Membuat dua titik bantu.
Untuk x = 0, maka y = 10. Diperoleh titik (0, 10)
Untuk y = 0, maka x = 10. Diperoleh titik (10, 0)
Selanjutnya digambar garis sesuai pertidaksamaan x + y ≤ 10.
Gambar yang diarsir adalah daerah penyelesaian pertidaksamaan x + y ≤ 10. Untuk mengecek/menyelidiki kebenarannya sebagai berikut.
Daerah yang diarsir rmemuat (0,0). Jika (0,0) kita substitusikanke x + y ≤ 10 akan diperoleh
0 + 0 ≤ 10. Hal ini sebuah pernyataan yang benar.
2. Tentukan daerah penyelesaian dari pertidaksamaan 2x + 3y ≥ 18.
Jawaban:
Langkah pertama kita membuat persamaan 2x + 3y = 18 (persamaan garis lurus)
Membuat dua titik bantu.
Untuk x = 0, maka y = 6. Diperoleh titik (0, 6)
Untuk y = 0, maka x = 9. Diperoleh titik (9, 0)
Selanjutnyadigambargarissesuaipertidaksamaan 2x + 3y ≥ 18.
Perlu diketahui, titik (0,0) tidak memenuhi pertidaksamaan 2x + 3y ≥ 18, karena 2(0) + 3(0) ≥ 18 sebuah pernyataan yang salah. Jadi, daerah yang memuat (0,0) tidak diarsir.
4. Pertidaksamaan 4x -2=3x+5x variabel pada himpunan cacah .
Jawab
Dengan menganti
tanda”>” dengan”=”di peroleh persamaan 4x-2=3x+5.
Dengan cara
menyelesaikan persamaan tersebut di peroleh penyelesaian adalah
X=7 selanjutnya
ambillah satu bilangan cacah yang kurang dari 7 dan lebih dari 7
Periksa nilai x yang
memenuhi pertidaksamaan 4x-2>3x+5
Jika dig anti 6 maka
4x6
-2>3x6x5
22>23 (bernilai
salah)
Jika x diganti 8 maka
4x8
-2>3x8+5
30>29 (bernilai
benar)
Karena nilai x yang
memenuhi lebih besar dari 7 ,maka himpunan penyelesaian dari 4x-2>3x+5adalah
(8,9,10,…)
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Kurikulum merupakan hal terpenting dalam
proses pendidikan. Tanpa kurikulum suatu proses pendidikan tidak akan mempunyai
arah dan tujuan serta orientasi pendidikan tersebut. Kurikulum merupakan
perangkat dan pedoman pembelajaran yang digunakan oleh lembaga pendidikan,
dapat berupa negara (pemerintah), guru, dan yang lainnya dalam rangka mencapai
tujuan pendidikan yang diharapkan pada peserta didik.
Kurikulum
mempunyai banyak sekali manfaat yang diperoleh bagi subjek pendidikan (guru)
dan objek pendidikan (murid). Peran dan fungsi kurikulum harus dimanfaatkan
sebaik mungkin demi keberhasilan proses pendidikan di Indonesia.
B. Saran-saran/Rekomendasi
Dengan
memahami apa itu kurikulum dan peran serta fungsinya,
diharapkan mahasiswa atau penulis makalah selaku calon guru MI/SD dapat mengaplikasian kurikulum
dengan sebaik-baiknya demi kesuksesan pembelajaran bagi peserta didik kita
kelak. Selain itu, dengan
beragamnya peran dan fungsi dari kurikulum itu sendiri, diharapkan pelaku
pendidikan di Indonesia dapat menghasilkan produk (output) pendidikan yang sesuai harapan dari tujuan nasional
pendidikan Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Jurnal
Ilmiah dengan Judul: Pengertian Peranan dan Fungsi Kurikulum, yang ditulis oleh
Drs. I Made Kartika, M. Si.
Harian Jurnal Asia dengan Judul: Fungsi Kurikulum dalam Pendidikan, yang
ditulis oleh Hasrian Rudi Setiawan.
Jurnal Ilmiah dengan Judul: Peran dan Fungsi Kurikulum, yang ditulis oleh
Beny Asyhar.
Idi, Abdullah. 2007. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktik.
Yogyakarta: Ar Ruzz Media.
Tim pengembang MKDP. 2011. Kurikulum dan Pembelajaran. Kurikulum dan
Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.
[3] https://watitrisia.wordpress.com/2013/03/14/persamaan-linear-dua-variabel/
[4]Sufyani, KonsepDasarMatematika,
(Jakarta : DirektoratJenderalPendidikan Islam Kementerian Agama Republik
Indonesia, 2012) hlm 171-173
[5]Ibid.hlm
177-178
[6] Ani
Andriani, Etty Lisnawati, dkk, Sukses Ujian Sekolah Nasioanal Matematika,
(Bandung: HUP berkhitmat untuk ilmu, 2013), hlm. 12.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar